Baca Juga: Lima Bakal Paslon Pilkada Kota Bogor Jalani Tes Kesehatan
Mengenalkan Bucephalandra
Bukan hanya sekedar konser, Sunset di Kebun ini juga tidak melupakan fungsi utama Kebun Raya yang merupakan pusat konservasi tumbuhan. Kebun Raya juga berfungsi sebagai tempat eduwisata yang sarat akan edukasi keanekaragaman hayati Indonesia. Di sisi lain, keberadaan Kebun Raya juga diharapkan dapat memicu kecintaan terhadap lingkungan.
Kebun Raya berada dibawah naungan BRIN bermitra dengan PT. Mitra Natura Raya (PT MNR) dalam kemitraan pelayanan publik sejak 1 Januari 2020.
Kemitraan ini merupakan sinergi strategis dimana BRIN dapat menjalankan fungsi utamanya dalam kegiatan penelitian dan konservasi tumbuhan sedangkan PT MNR bertugas menyelenggarakan berbagai fungsi pelayanan publik yang sesuai dengan fungsi dan pilar kebun raya, yaitu membawa pesan edukasi dan konservasi lingkungan ke masyarakat luas dengan bahasa yang sesuai dengan perkembangan zaman.
“Sunset di Kebun ini digelar untuk mengajak generasi muda agar lebih mengenal alam, memperkenalkan flora yang ada di Kebun Raya. Selain itu, pelaksanaan event ini diharapkan bisa memperkenalkan Kebun Raya sebagai lokasi yang nyaman dan bisa menjadi destinasi eduwisata,” ujar Abi Irawan.
Baca Juga: Resmi dilantik Sebagai Anggota DPRD Kota Bogor, Karina Soerbakti Kebut 3 Sektor Dalam 100 Hari Kerja
Kebun Raya memiliki lima fungsi kebun raya yakni konservasi, edukasi, wisata, penelitian dan jasa lingkungan. Program Sunset di Kebun ini dibuat sebagai perpanjangan lima fungsi tersebut. Program ini dilakukan sebagai ajang untuk mengedukasi sisi konservasi kepada anak muda dengan memperkenalkan plant heroes pada setiap pelaksanaannya melalui bahasa musik dan program lainnya.
Plant heroes kali ini adalah tanaman Bucephalandra. Bucephalandra atau dikenal dengan sebutan Buce merupakan sejenis tumbuhan asli Indonesia yang termasuk ke dalam tumbuhan air.
Uniknya tumbuhan ini memiliki bentuk daun yang mirip dengan tanduk banteng, bahkan beberapa spesiesnya memiliki kilauan iridescent yang memantulkan warna-warna indah saat disinari cahaya.
Bucephalandra pertama kali ditemukan pada tahun 1858 oleh ahli botani berkebangsaan Jerman, Heinrich Ludwig Wendland. Bucephalandra banyak yang endemik pulau Kalimantan, Indonesia. Bucephalandra hanya bisa hidup di air bersih dan mengalir sehingga menjadi indikator kesehatan sungai di Kalimantan.
Bucephalandra telah menjadi tanaman hias akuarium yang sangat populer sejak pertengahan abad ke-20. Bucephalandra sekarang dibudidayakan secara komersial di banyak negara untuk memenuhi permintaan pasar aquascape.
Selain mengenalkan Bucephalandra, pengenalan tanaman juga dilakukan lewat dekorasi di main stage yang bertema Rain Forest dengan gaya Nature Style yang akan menonjolkan pohon Cyathea dan sentuhan beberapa warna warni Begonia sebagai cara untuk mengenalkan dua taman tematik yang ada di Kebun Raya Bali yaitu Taman Cyathea dan Taman Begonia, selain itu juga ada tanaman khas hutan hujan dataran tinggi sesuai dengan ketinggian Kebun Raya Bali di 1.250 - 1.450 mdpl. Tak lupa ada juga sentuhan kain poleng khas Bali.(*)