JURNAL METROPOLITAN - Perhelatan sepak bola dunia di Qatar tinggal dua minggu lagi dan Pemerintah Qatar pun menyiapkan semua termasuk fasilitas penonton.
Namun sejumlah pihak ada yang menyatakan dan menyerukan untuk memboikot penyelenggaraan event bergengsi para pemaian bola dunia.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al -Thani mengecam negara dan pihak-pihak yang menyerukan boikot penyelenggaraan Piala Dunia.
Baca Juga: Buntut Pengusiran 1500 Pekerja Asing, Sejumlah Pub di Jerman Boikot Siaran Piala Dunia
Diketahui ternyata orang yang menyerukan boikot Piala Dunia di Qatar berasal dari segelintir negara yang tidak mewakili seluruh dunia yang menantikan turnamen tersebut.
"Alasan yang diberikan untuk memboikot Piala Dunia tidak cocok. Ada banyak kemunafikan dalam serangan ini, yang mengabaikan semua yang telah kami capai," kata Sheikh Mohammed kepada Le Monde, Jumat (5/11/2022).
Mohammad sangat menyayangkan seruan tersebut terjadi yang tidak lebih dilakukan 10 negara, yang dianggapnya sama sekali tidak mewakili bagian dunia lainnya.
Beberapa tim peserta seperti Inggris , Australia , Denmark dan Belanda menyoroti nasib buruh migran di Qatar.
Seperti diketahui Qatar -- negara Timur Tengah pertama yang menjadi tuan rumah Piala Dunia. Namun negara kecil itu berada di bawah tekanan kuat dalam beberapa tahun terakhir karena perlakuannya terhadap pekerja asing dan undang-undang sosial yang membatasi.
Catatan hak asasi manusia negara itu menyebabkan seruan bagi tim dan ofisial untuk memboikot 20 November-18 Desember. Sementara penjualan tiket hampir terjual habis.
Baca Juga: Qatar Kerahkan 50.000 Petugas Keamanan Termasuk Pasukan Asing di Piala Dunia
Setelah bertahun-tahun mendapat tekanan dari kelompok hak asasi manusia, Qatar mengubah undang-undang perburuhannya untuk membongkar sebagian besar sistem sponsor "kafala", membebaskan pekerja dari kebutuhan untuk mendapatkan izin dari majikan yang mensponsori visa mereka untuk berganti pekerjaan atau meninggalkan negara itu. .
Tahun lalu, pemerintah Qatar membantah klaim dalam sebuah laporan oleh organisasi hak asasi manusia Amnesty International bahwa ribuan pekerja migran terjebak dan dieksploitasi.
Sheikh Mohammed mengakui "masih ada kekurangan" yang mereka coba perbaiki tetapi juga menuduh negara-negara memiliki "standar ganda".