Kata Menkes Senyawa Kimia ini yang Picu Gagal Ginjal Akut pada Anak dan Sebabkan Kematian

photo author
Aliefien Sutopo, Jurnal Metropolitan
- Sabtu, 22 Oktober 2022 | 11:00 WIB
Tangkapan Layar, Menteri Kesehatan atau Menkes Budi Gunadi Sadikin menyampaikan update kasus gagal ginjal akut di Indonesia. (Instagram @kemenkes_ri)
Tangkapan Layar, Menteri Kesehatan atau Menkes Budi Gunadi Sadikin menyampaikan update kasus gagal ginjal akut di Indonesia. (Instagram @kemenkes_ri)

JURNAL METROPOLITAN - Kementerian kesehatan telah memeriksa kasus kematian akibat gangguan gagal ginjal akut pada anak dan balita. Hasil pemeriksaan tersebut di luar dugaan banyak orang.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut pemeriksaan terhadap kasus kematian tersebut setelah Kementerian Kesehatan menerima laporan adanya 241 gangguan ginjal akut di 22 provinsi.

Gangguan ginjal akut ini diketahui terjadi lonjakan belakangan ini. Lonjakan ginjal akut yang dialami anak-anak ini tercatat 200 pasien. Bahkan, kasus kematiannya mencapai 133 jiwa dari 22 provinsi.

Baca Juga: Jika Anak Anda Berkurang Buang Air Kecil, Segera Datangi Rumah Sakit, Waspada Kasus Gagal Ginjal Akut

"Telah dilaporkan adanya 241 gangguan ginjal akut di 22 provinsi dengan 133 kematian atau 55 persen dari kasus. Jadi seperti kita lihat, ini terjadi peningkatan mulai bulan Agustus," ungkap Menteri Budi Gunadi dalam konferensi pers, Jumat (21/10/2022) di Jakarta.

Kasus kematian balita yang diperiksa, yakni dari 17 anak, 15 di antaranya memiliki senyawa etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG), sehingga terkonfirmasi bahwa penyebab gangguan ginjal akut tersebut bukan karena bakteri, virus maupun parasit.

"(Bukan karena patogen karena toksik). Kita tes ke anak-anak tersebut yang ada di RSCM. Dari 17 ada 15 positif memiliki senyawa tadi EG dan DEG. Itu ada di mereka. Jadi terkonfirmasi ini disebabkan oleh senyawa kimia," tambah Menkes Budi.

Baca Juga: Dinyatakan Indispliner, Ini Alasan Cristiano Ronaldo Tinggalkan Lapangan

Bila dikonsumsi, senyawa tersebut akan dimetabolisme oleh tubuh. Metabolisme itu mengubahnya menjadi asam oksalat yang menghasilkan kalsium oksalat sehingga berdampak fatal.

"Kalau masuk ke ginjal bisa jadi kalsium oksalat. Kristal kecil yang tajam-tajam di ginjal balita sehingga rusak ginjalnya," jelas Budi Menteri Kesehatan Gunadi Sadikin.

"Jadi kita mengambil kebijakan yang sifatnya konservatif. Daripada nanti banyak lagi balita yang masuk rumah sakti dan fatality rate-nya tinggi sekali," tandasnya.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Aliefien Sutopo

Sumber: antvklik.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Peduli Pelanggan, PLN Cek kWh Meter Demi Keselamatan

Selasa, 6 Februari 2024 | 09:45 WIB

5 Perbedaan Antara Jaringan 4G dan 5G, Yuk Pelajari!

Kamis, 14 September 2023 | 13:00 WIB
X