“Ini ruangan kelas 2, berlantai tanah. Ini di dalam ruangan begini, selama ini kita pakai untuk kelas 2 dan kelas 3,” terangnya.
“Tapi, ketika pelajaran sudah mulai, maka kelas 3 belajar di luar dan kelas 2 di dalam kelas,” lanjutnya.
Bangunan dari seng tersebut juga terungkap hasil dari swadaya masyarakat yang terakhir kali direnovasi pada tahun 2016 lalu.
Berganti-gantian Ruang Kelas
Lebih lanjut, ruang kelas yang terbatas itu memaksa para siswa untuk saling bergantian.
Seperti siswa kelas 3 akan menggunakan ruangan kelas 1 saat kegiatan belajar selesai.
Namun, saat kondisi cuaca sedang baik, siswa kelas 3 akan belajar di luar ruang dan baru masuk kelas saat siswa kelas 1 sudah pulang.
Baca Juga: Dedie Rachim Tekankan Peserta Pelatihan Tokutei Ginou Manfaatkan Kesempatan Bekerja di Jepang
SDN Tando sendiri dibangun pada tahun 2014 dan kini memiliki 68 siswa yang belajar di sekolah tersebut.
Menuai Keprihatinan Warganet
Potret ketimpangan fasilitas pendidikan di Indonesia tersebut lantas mendapat sorotan dari warganet.
Beberapa komentar yang diberikan di antaranya, “Sedih sekali, sudah berapa kali ganti pemimpin Manggarai Barat, tapi Infrastruktur masih kayak gini,” tulis akun @pau******o
“Pemerintah lagi bangun sekolah dan memperbaiki sekolah rusak, ditambah bangun jembatan. Sabar dulu lagi,” tulis akun @mai**********s
“Kesenjangan kota dengan daerah sangat jauh, dari saya kecil sampai tua masih ada yang begini,” tulis akun @bot*******7(*)