JURNALMETROPOLITAN.com - Wakil Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia, Diana Kusumastuti, menekankan bahwa arah pembangunan infrastruktur ke depan tidak cukup hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga harus mengutamakan pelestarian lingkungan melalui pendekatan yang selaras dengan alam.
Menurutnya, tantangan berupa perubahan iklim, pesatnya urbanisasi, serta menurunnya kualitas lingkungan menjadi alasan mengapa pembangunan infrastruktur harus mengedepankan aspek keberlanjutan, tidak semata-mata berfokus pada konstruksi fisik.
Pernyataan tersebut disampaikan Diana saat membuka International Lecture Series bertema Horticulture as the Living Infrastructure for Sustainable Landscape di Griya Anggrek, Kebun Raya Bogor, Selasa (28/7/2026).
Baca Juga: Kinerja Penyaluran KUR Perumahan BRI Tuai Apresiasi, Dukung Percepatan Program 3 Juta Rumah
“Pendekatan pembangunan itu harus bertransformasi. Tidak lagi sekadar membangun fisiknya saja, tidak hanya membangun beton-betonnya saja, tetapi harus memikirkan bagaimana lingkungannya tetap terjaga, bagaimana penciptaan suatu ruang hidup yang bermakna, berkelanjutan, inklusif, dan selaras dengan lingkungan,” ujarnya.
Diana menjelaskan, penerapan konsep Nature-based Solutions menjadi langkah penting dalam perencanaan infrastruktur agar proses pembangunan tetap berjalan seiring dengan keseimbangan alam.
Melalui pendekatan tersebut, alam diposisikan sebagai bagian dari solusi pembangunan, bukan sebagai penghalang yang harus diatasi.
“Alam jangan dilawan, tetapi harus kita ikuti. Sungai jangan dibelok-belokkan. Banyak sungai yang dulunya lebar, sekarang menyempit karena pembangunan,” katanya.
“Akhirnya ketika banjir kita justru menyalahkan sungainya, marah karena air banjir nabrak rumah. Padahal jangan salahkan sungainya, salahkan kita yang membangun di depan sungai. Hal-hal seperti ini yang harus kita sesuaikan ke depan,” imbuhnya.
Ia juga menegaskan bahwa prinsip serupa perlu diterapkan dalam pembangunan yang berada di kawasan berhutan.
Menurut Diana, pembangunan seharusnya tidak dilakukan dengan menebangi seluruh pepohonan, melainkan hanya vegetasi yang memang terdampak langsung oleh proyek.
“Kalau membangun jangan menebangi seluruh pohon. Yang terdampak bangunan saja yang dipangkas. Jadi yang lainnya ya biarkan saja. Nanti tinggal kita atur flow-nya seperti apa, mana yang harus diatur kembali, tetap pohon itu tetap ada. Pohon-pohon yang sudah besar itu butuh waktu lama untuk tumbuh,” ujarnya.
Baca Juga: PT SEG Dukung Bogor Comedy Tour, Ballroom Klub Bogor Raya Dipadati 400 Penonton