JURNALMETROPOLITAN.com - Sektor energi masih menjadi tantangan bagi Indonesia di masa depan. Pada sektor bahan bakar minyak (BBM), dari kebutuhan nasional sekitar 1,6 juta barel per hari, produksi dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 700 ribu barel. Sisanya masih harus dipenuhi melalui impor.
Di sektor ketenagalistrikan, penggunaan batu bara juga perlu terus ditekan melalui pengembangan energi baru terbarukan sebagai sumber energi masa depan.
Hal tersebut disampaikan Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, saat menjadi narasumber dalam Obrolan Serius Mencari Solusi bertajuk "Dari Matahari dan Sampah: Jalan Baru Menuju Kemandirian Energi" di Atrium Botani Square Mall, Senin (29/6/2026).
Baca Juga: Dedie Rachim Lepas Purna Bakti Kepala DLH, Apresiasi Pengabdian Deni Wismanto
Dalam kesempatan tersebut, Dedie Rachim menjelaskan mengenai pengembangan pembangkit listrik tenaga sampah melalui sistem pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) sebagai salah satu solusi menuju kemandirian energi nasional.
"PSEL itu harapan masa depan Indonesia. Kita akan memiliki alternatif energi baru terbarukan. Sebagai contoh, PLTU Suralaya di Banten membutuhkan sekitar 32 ribu ton batu bara setiap hari untuk memasok kebutuhan listrik wilayah Jabodetabek. Jika dianalogikan, kebutuhan energi tersebut setara dengan sekitar enam PSEL," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan batu bara masih menghasilkan emisi karbon, sehingga belum mampu menciptakan lingkungan yang benar-benar bersih. Karena itu, Indonesia perlu beralih ke teknologi pembangkit yang lebih ramah lingkungan.
Menurutnya, teknologi PSEL menggunakan sistem filtrasi berlapis, sehingga emisi yang dihasilkan dapat dikendalikan dan menjadi bagian dari pengembangan energi baru terbarukan (new and renewable energy).
Baca Juga: PKL Alun-alun Kota Bogor Naik Kelas, Kini Berjualan di Pasar Jambu Dua
"Sudah saatnya kita tidak lagi bergantung pada batu bara. Berbagai negara di Eropa, Asia Tengah, hingga Timur Tengah telah beralih dan mengurangi penggunaan batu bara sebagai sumber energi," ungkapnya.
Ia menambahkan, pembangunan dua unit PSEL di Bogor merupakan langkah strategis dan konstruktif dalam mendukung ketahanan energi nasional. Selain mengurangi ketergantungan terhadap impor energi, PSEL juga diharapkan mampu menekan penggunaan batu bara di tengah meningkatnya kebutuhan listrik, termasuk akibat berkembangnya kendaraan listrik dan transportasi berbasis energi listrik.
Selain menjadi sumber energi baru terbarukan, PSEL juga menjadi solusi dalam pengelolaan sampah, termasuk mengurangi timbunan sampah yang selama ini berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).
Dedie Rachim menyebutkan bahwa timbulan sampah di Kota Bogor mencapai sekitar 1.000 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 700 ton diangkut ke TPA menggunakan 110 truk, sementara sisanya masih tercecer, atau tertimbun di dalam tanah, karena belum dapat terangkut seluruhnya.
Karena itu, keberadaan PSEL yang dipadukan dengan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) diyakini akan menjadi solusi pengelolaan sampah secara menyeluruh.
Artikel Terkait
Tinjau Lokasi Longsor Batu Tulis, Wakil Wali Kota Dedie A Rachim Pastikan Perbaikan Tepat Waktu
Ramadan Dengan Cinta, Dedie A Rachim Ajak Influencer Berbagi Kasih di Bulan Suci
Wali Kota Dedie A Rachim Lantik 62 Pejabat Baru di Lingkungan Pemkot Bogor