22 Hari Bertaruh Nyawa di Tenda: Kisah Haru Anak Aceh yang Tetap Ingin Mengaji di Tengah Duka Banjir

photo author
Dimas Pratama, Jurnal Metropolitan
- Selasa, 23 Desember 2025 | 13:27 WIB
Tangkapan layar ketika anak-anak Aceh yang lebih memilih Al-Qur'an dibanding mainan saat berada di posko pengungsian. (TikTok/Ikramafro)
Tangkapan layar ketika anak-anak Aceh yang lebih memilih Al-Qur'an dibanding mainan saat berada di posko pengungsian. (TikTok/Ikramafro)



JURNALMETROPOLITAN.com - Di bawah tenda pengungsian yang sempit dan panas, masa kecil anak-anak korban banjir di Aceh kini berubah menjadi ruang penuh ketabahan

Sudah tiga minggu lebih mereka meninggalkan kehangatan rumah yang kini hancur rata dengan tanah akibat terjangan banjir bandang.

Melalui unggahan akun TikTok @Ikramafro pada Sabtu, 20 Desember 2025, terekam percakapan yang menyentuh hati dengan anak-anak yang kini harus menggantungkan hidup di posko darurat. 

Tidak ada keceriaan bermain, yang ada hanyalah ingatan tentang rumah mereka yang telah hilang.

Baca Juga: Lumpur Mulai Mengeras Pascabanjir, Warga Aceh Pakai Alat Berat saat Membersihkan Rumah

Waktu seolah berjalan lambat bagi para pengungsi cilik ini. Hidup di tenda bukan perkara mudah; mereka harus berdamai dengan gigitan nyamuk dan rasa takut yang terus membayangi setiap malam.

"22 hari (di tenda pengungsian)," ucap salah satu bocah laki-laki dalam video tersebut.

Kehilangan tempat tinggal di usia yang masih sangat muda meninggalkan luka batin yang dalam. 

Dengan suara lirih, mereka mengungkapkan perasaan mereka saat melihat kondisi kampung halaman yang kini luluh lantak.

"Terpukul, kenapa rumah saya tidak ada lagi," kata salah satu anak.

Baca Juga: Potret Kelam Banjir Aceh Tamiang: Tak Ada Pilihan, Bayi 10 Bulan Terpaksa Konsumsi Mi Instan Selama 11 Hari

"Sakit hati, karena rumah-rumah orang sudah tidak ada lagi," timpal anak lainnya.

Kondisi tidur pun jauh dari kata layak. Meski mengaku tubuhnya tidak pegal, ancaman dari alam liar menjadi teror tersendiri bagi mereka. 

"Di tenda (tidur), enggak pegel tapi banyak nyamuk dan takut ada ular," sambungnya.

Hal yang paling menggetarkan hati adalah ketika anak-anak ini ditanya mengenai keinginan atau permintaan mereka. 

Di saat anak seusia mereka biasanya menginginkan hiburan atau mainan untuk melupakan kesedihan, bocah ini justru meminta sesuatu yang lebih mulia.

Baca Juga: Viral! di Media Sosial, Rekaman Oknum Guru Diduga Rundung Penyandang Disabilitas Banjir Kritik

Ia tidak mencari mobil-mobilan atau boneka, melainkan sarana untuk bersujud dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta di tengah musibah.

"Al-Qur'an, aku enggak minta mainan, mau ngaji," ucap bocah itu dengan polos namun penuh keyakinan.(*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dimas Pratama

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X