Dengan dirancang memiliki beberapa unit usaha, Kopdes Merah Putih berpotensi menciptakan lapangan kerja tambahan di desa. Misalnya, gerai sembako memerlukan staf pengelola inventaris, penjualan, dan layanan pelanggan. Unit apotek dan klinik akan membutuhkan tenaga kesehatan seperti apoteker, perawat, dan staf administrasi. Unit simpan pinjam menciptakan pekerjaan bagi petugas keuangan, teller, serta administrasi.
Kemudian, operasional logistik akan memerlukan pengemudi, petugas gudang, serta petugas distribusi dan penjadwalan. Fasilitas cold storage juga akan menyerap tenaga kerja berupa operator kontrol suhu dan teknisi pemeliharaan. Kantor Kopdes Merah Putih juga membutuhkan tenaga kerja seperti bidang manajemen operasional dan administrasi umum.
Dengan berbagai unit usaha tersebut, perkiraan realistis penyerapan tenaga kerja Kopdes Merah Putih sebanyak 10-15 orang per desa. Maka terciptalah potensi 800.000-hingga 1,2 juta pekerjaan baru secara nasional. Bandingkan dengan koperasi biasa yang tanpa dukungan desain bisnis terpadu.
Kopdes Merah Putih juga berpotensi menciptakan pekerjaan secara tidak langsung, seperti di sektor pemasok desa, teknisi pemeliharaan fasilitas, dan penyedia jasa transportasi untuk kegiatan logistik koperasi. Penduduk desa harus benar-benar bisa mengisi peran-peran tersebut sehingga pelatihan keterampilan menjadi aspek yang sangat penting.
Pemerintah telah berkomitmen melatih 210.000-240.000 orang, atau rata-rata 3 orang pengelola terlatih per koperasi. Pelatihan ini akan meningkatkan kemampuan manajerial, memastikan operasional koperasi berjalan efektif, serta meningkatkan keberlanjutan bisnis koperasi di desa.
Saat ini terdapat sekitar 3,17 juta penduduk desa yang hidup dalam kemiskinan ekstrem. Jika Kopdes berhasil menciptakan 1 juta lapangan kerja baru artinya angka kemiskinan ekstrem di desa turun 25–30 persen.
Baca Juga: Jelang Indonesia vs Bahrain di Kualifikasi Piala Dunia 2026, Erick Thohir: Ada Tekanan Besar
Manfaat Efek Jaringan
Nilai suatu barang atau layanan meningkat seiring bertambahnya jumlah pengguna atau partisipan yang terlibat. Inilah yang disebut efek jaringan. Efek jaringan Kopdes Merah Putih dapat terwujud melalui integrasi ribuan koperasi yang tersebar di berbagai tingkatan wilayah, mulai dari kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga nasional.
Apabila satu Kopdes rata-rata memiliki 500 anggota, maka dengan 80.000 koperasi akan tercipta pasar baru yang terorganisir sekitar 40 juta orang. Konsolidasi skala besar ini berpotensi menciptakan jaringan distribusi yang kuat dan luas, sekaligus membentuk basis produksi baru yang terdokumentasi secara rapi. Data terstruktur yang mencakup baik hasil produksi maupun konsumsi dari puluhan juta rumah tangga desa ini akan menjadi aset ekonomi yang bernilai tinggi. Informasi yang dimiliki ini dapat mempercepat distribusi dan menurunkan biaya transaksi.
Efek jaringan tercipta melalui keterhubungan antar koperasi di seluruh wilayah. Dengan bergabung dalam satu jaringan besar, koperasi-koperasi tersebut akan memiliki daya beli kolektif yang jauh lebih tinggi. Ini memungkinkan mereka memperoleh ”barang dagangan” dengan harga yang lebih murah, sehingga biaya operasional pun dapat ditekan secara signifikan. Jaringan bahkan mampu meningkatkan daya tawar di pasar, yang membuat petani dan produsen di desa mendapatkan harga jual yang lebih baik. Selain itu, dengan berjejaring, 240.000 pengelola koperasi dapat saling belajar dan bertukar pengalaman.
Efek jaringan koperasi sudah terbukti membawa kesejahteraan rakyat pedesaan di Amerika Serikat, Eropa, dan juga di Vietnam dan India. Jaringan koperasi dapat membuat kegiatan ekonomi lebih beragam dan kompetitif. Selain itu, bahkan layanan-layanan berteknologi tinggi seperti kelistrikan juga telah terbukti dapat dilayani jaringan koperasi di beberapa negara bagian AS. Contoh sudah banyak, sekarang saatnya kita wujudkan mimpi konstitusi kita Ekonomi Berdikari berbasis Koperasi.(*)