nasional

Konsumsi Rokok Lebih Besar dari Kebutuhan Keluarga hingga Jadi Akar Penyebab Stunting

Selasa, 30 September 2025 | 22:31 WIB
Konsumsi Rokok Lebih Besar dari Kebutuhan Keluarga hingga Jadi Akar Penyebab Stunting

Kemudian, menurut data lain dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dirilis pada 2021 lalu menyebutkan bahwa pengeluaran keluarga untuk konsumsi rokok adalah tiga kali lebih banyak dari pengeluaran yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan protein.

Dilema Rokok untuk Kesehatan dan Ancaman PHK

Sementara itu, tingginya kebijakan tarif cukai rokok yang diterapkan di Indonesia juga bertujuan untuk menjaga kesehatan, namun di sisi lain memberi pengaruh pada industri rokok.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa saat berkunjung ke kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), mengatakan ada beberapa diskusi mengenai cukai rokok yang membuatnya terkejut.

“Cara mengambil kebijakan yang agak aneh untuk saya, saya tanya kan, ‘Cukai rokok gimana? Sekarang berapa rata-rata? 57 persen wah tinggi amat, Firaun lu?’ Banyak banget,” ujar Menkeu Purbaya kepada awak media di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, pada 19 September 2025 lalu.

Purbaya lantas dibuat bingung saat ia diberi tahu ketika tarif cukai lebih rendah, justru income akan lebih tinggi.

Baca Juga: Korupsi Kuota Haji 2024: Keterangan Biro Perjalanan Mulai Diburu KPK hingga Pastikan Penyidikan Tak Ada Intervensi

“Rupanya, kebijakan itu bukan hanya income saja di belakangnya. Ada policy memang untuk mengecilkan konsumsi rokok,” imbuhnya.

Konsumsi rokok yang ramping itu juga membuat industri rokok ikut mengecil.

“Jadi, kecil lah, otomatis industri-nya kecil, kan? Tenaga kerja di sana juga kecil. Oke, bagus. Ada WHO di belakangnya, ada ini dan lainnya,” tambahnya.

Menkeu juga menegaskan bahwa harus ada policy yang seimbang antara kesehatan dan industri.

“Nggak boleh dengan policy untuk membunuh industri rokok, tenaga kerja dibiarin tanpa kebijakan bantuan dari pemerintah,” tuturnya.
***

Halaman:

Tags

Terkini