“Kalau Jepang kan mereka ke lapangan, ngukur, ditimbang kemudian melakukan survei 4 tahun,” lanjutnya.
Dosen Nanyang Technological University (NTU), Singapura itu menyebut bahwa studi yang dilakukan China tidak empirik atau situasi yang tidak didasarkan pada peristiwa nyata melalui penelitian atau observasi.
Saat itu, Sulfikar juga menyebut bahwa studi tanpa turun ke lapangan juga menjadi penyebab pembengkakan biaya atau cost overrun yang kini ditanggung oleh proyek Whoosh.(*)