“Itu udah jadi obrolan di makan malam terakhir ISPPD. Ada dari kelompok negara lain tuh kayak bilang, ‘Perwakilan dari Indonesia ngeprint poster di kertas HVS, terus yang presentasi nggak jelas ngomong apa’ jadi tanpa ada isinya ngomong apa,” lanjutnya.
“Jatuhnya emang aneh, jadi gue konfirmasi langsung kalau itu sebenernya sangat memalukan buat gue mengakui dan melaporkan ini, itu dari Indonesia tapi bukan bagian dari kelompok gue,” tambahnya.
Dwi juga menjelaskan bahwa peneliti tentang pneumo masih sedikit, sehingga memungkinkan untuk saling mengenal satu sama lain.
“Gue aware karena dia pakai afiliasi Indonesia dan orang-orang yang kerja di pneumo, walaupun nggak kenal personal atau dekat, kita tahu orang-orang mana aja yang melakukan penelitian pneumo,” paparnya.
“Karena yang kita baca paper penelitian fokus pneumonia di Indonesia ya orang-orangnya itu-itu aja. Makanya sampai ketahuan kayak gini ya karena dia afiliasi Indonesia,” tukasnya.
Sementara itu, riset yang dilakukan oleh kelompok Rifaldy dan Prihantini ini juga diduga menggunakan kecerdasan buatan hingga modus untuk mendapatkan travel grant.
Meski kasus ini tengah viral, Prihantini sendiri belum buka suara untuk menanggapi dugaan penipuan riset tersebut.(*)