JURNAL METROPOLITAN - Leluhur orang Bantul DIY seorang raja besar yang terkenal. Raja itu bernama Sultan Agung. Peninggalan Keraton Kerajaan Mataram Islam itu banyak terdapat di Pleret Bantul.
Jika Keraton Kerajaan Mataram Islam tidak sepenuhnya terlihat sebagai sebuah istana maka peninggalan Sultan Agung yang paling bisa didatangi sekarang adalah kompleks pemakaman Imogiri.
Imogiri salah satu kompleks pemakaman raja-raja yang sudah sudah sejak abad 16. Dan Sultan Agung hingga Sri Sultan Hamengku Buwono IX juga di makamkan di Imogiri tersebut.
Baca Juga: Nikmati Paris Mulai Istana hingga Seafood di Resto Menawan
Pemakaman Imogiri juga menjadi tempat wisata ziarah yang sudah lama dibuka untuk umum. Yang ingin mendoakan leluhur raja-raja Jawa bisa datang ke Imogori ini.
Jejak Sultan Agung dan Kerajaan Mataram Islam selain Imogiri yakni lokasi ibu kota atau istana Kerajaan Mataram Islam saat ini telah menjadi cagar budaya yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Menurut Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya menyebut Situs Cagar Budaya adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau Struktur Cagar Budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu.
Istana Kerajaan Mataram Islam diketahui berada di daerah Kerto Bantul. Namun hanya beberapa bagian deperti sumur dan batu-batuan yang masih tersisa.
Baca Juga: QCH Mengumumkan Awal Ramadan di Qatar Kamis 23 Maret
Dan bekas istana yang berada di di Kerto itu telah menjadi situs cagar budaya Kerta dengan adanya ketetapan melalui Surat Keputusan (SK) Gubernur DIY Nomor 194/KEP/2019 yang ditetapkan pada tanggal 8 Agustus 2019.
Yang ditetapkan sebagai situs cagar budaya Kerto itu berupa lokasi bekas ibu kota kerajaan Mataram Islam Abad 17 (periode pemerintahan Sultan Agung 1613-1646).
Tepatnya lokasi situs cagar budaya Kerto terletak di Dusun Kerto dan Dusun Kanggotan, Kalurahan Pleret, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul.
Lokasi tempat Situs Cagar Budaya Kerto juga disebut dengan Lemah Dhuwur, kata dalam Bahasa Jawa yang artinya tanah yang tinggi.
Baca Juga: Erupsi Merapi untuk Tutupi Lubang Akibat Galian Pasir