JURNAL METROPOLITAN - Kepolisian RI memutakhirkan korban meninggal kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Kabupatan Malang Jawa Timur menjadi 125 orang. Sebelumnya dikabarkan korban meninggal berjumlah 127-129 orang.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo kepada wartawan Minggu malam (2/10/2022) mengatakan terdapat data ganda dan setelah dilakukan pemutakhiran data dari Tim DVI dan Dinas Kesehatan Kota Malang maka jumlah korban 125 orang.
Hingga Minggu malam masih terdapat 33 orang korban luka yang dirawat di RSUD Kanjuruhan dan RS Dr Saiful Anwar. Lima pasien yang di rawat di RSUD Kanjuruhan di antaranya dalam keadaan kritis.
Baca Juga: Mulai Hari Ini Datangi Markas Arema, Komnas Lakukan Investigasi Tragedi Kanjuruhaan
Usai konferensi pers, Kapolri Listyo Sigit bersama Gubernur Jawa Timur Khififah Indar Parawansa serta Menpora Zainudin Amali mengunjungi RUSD Kanjuruhan selanjutnya berkoordinasi menangani langkah pendalaman investigasi tragedi Stadion Kanjuruhan.
Ratusan korban meninggal yang terjadi Sabtu malam 1 Oktober 2022 usai pertandingan Persebaya vs Arema FC membuat dunia sepak bola berduka. Ucapan belasungkawa berdatangan dari penjuru dunia.
Tidak hanya simpati dan empati yang dilontarkan baik sesama pemain sepak bola dunia atau organisasi sepak bola dunia.
Masyarakat umum pencinta sepak bola di dalam negeri juga melakukan doa bersama maupun sekadar berkumpul menyalakan lilin tanda berduka.
Baca Juga: Presiden Arema FC Gilang: Berikan Pelayanan Maksimal Penanganan Korban Stadion Kanjuruhan
Di sisi lain kejadian Kanjuruhan harusnya juga mengingatkan pada tragedi lainnya.
Seperti dikutip ibtimes.id kerusuhan usai pertandingan sepak bola yang terjadi di Indonesia, mengingatkan dunia tragedi di Lima, Peru saat Argentina bertamu ke Stadion Nasional Lima 24 Mei 1964 pada kualifikasi Olimpiade Tokyo.
Pada tragedi itu sebanyak 328 nyawa melayang akibat sesak nafas karena gas airmata, hampir sama dengan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan.
Bukan hanya korban jiwa, yang patut mendapat perhatian juga adalah bagaimana organisasi FIFA memperlakukan Indonesia dengan adanya tragedi Kanjuruhan.
Masyarakat Indonesia yang menyukai sepak bola tentu masih ingat sanksi yang diberikan oleh FIFA. Karena Indonesia pernah dibekukan oleh FIFA.