Peneliti Kendalikan Kasus DBD dengan Teknik Serangga Mandul? Ini Dia Penjelasannya

photo author
Mulya Achdami, Jurnal Metropolitan
- Minggu, 13 November 2022 | 09:45 WIB
Nyamuk Anopheles Stephensi (Theguardian.com/James Gathany)
Nyamuk Anopheles Stephensi (Theguardian.com/James Gathany)

JURNAL METROPOLITAN - Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia tertinggi mencapai 1.191 kasus. Kini ada penemuan baru mengatasi perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD -- Aedes aegypti.

Penemuan baru tersebut berhasil diungkap peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru-baru ini, yang melakukan penelitian di Kelurahan Sekejati Kota Bandung, Jawa Barat.

Uniknya teknologi yang digunakan peneliti ini adalah dengan memutus perkembangbiakan nyamuk dengan cara memandulkan nyamuk jantan. Nyamuk jantan tersebut disebar di lokasi penelitian yaitu Kelurahan Sekejati, Bandung yang nota bene tertinggi kasus DBD-nya.

Baca Juga: Berikut 102 Obat yang Diminum Pasien Sebelum Sakit Gagal Ginjal Akut

Rombongan peneliti BRIN dan para delegasi yang tergabung dalam acara TC Project Coordination Meeting RAS5095: “Enhancing The Capacity and The Utilization of The Sterile Insect Technique for Aedes Mosquito Control" meninjau Studi Percontohan Pelepasan Nyamuk Jantan Mandul Berbasis Radiasi di Indonesia, Rabu (10/11).

Studi percontohan pelepasan nyamuk jantan mandul berbasis radiasi di Indonesia ini merupakan implementasi dari hasil penelitian Teknik Serangga Mandul (TSM) yang merupakan hasil penelitian dari Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi (PRTPR) BRIN.

"Teknik Serangga Mandul adalah teknik yang digunakan untuk memandulkan nyamuk jantan dengan menggunakan radiasi sinar gamma," jelas Hadian Iman Sasmita, salah satu peneliti dari PRTPR BRIN.

Menurut dia, tujuan Teknik Serangga Mandul untuk menurunkan jumlah populasi nyamuk dengan cara menyebarkan nyamuk jantan pada habitatnya.

"Meskipun terjadi perkawinan antara nyamuk jantan dengan nyamuk betina, namun dari perkawinan tersebut tidak akan terjadi pembuahan. Dengan begitu, jumlah populasi nyamuk semakin lama akan semakin menurun," jelasnya.

Hadian Iman Sasmita, yang juga leader kegiatan lapangan untuk para delegasi ini menjelaskan sistem pengendalian nyamuk Aedes yang digunakan dalam projek ini adalah hasil kolaborasi antara BRIN, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB dan juga National Chung Hsing University (NCHU) Taiwan, dan juga masyarakat setempat di Kelurahan Sekejati Kota Bandung.

Baca Juga: Warga Depok Sakit Gagal Ginjal & Butuh Bantuan, Ridwan Kamil Beri 10 Juta untuk Berobat

Dia menyebut sistem pengendalian nyamuk Aedes ini adalah dengan melakukan 3 pendekatan yang melingkupi ovitrap surveillance, socio-economic survey dan serological study.

Sejak September 2018, pemasangan perangkap telur nyamuk (ovitrap) telah dilakukan di beberapa rumah penduduk dan juga area publik yang melingkupi kelurahan Sekejati, kota Bandung.

Penelitian ini untuk mengetahui distribusi nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus sebagai vektor dari penyakit DBD, melalui pengecekan keberadaan telur nyamuk dalam ovitrap tersebut. Data ini juga akan berguna sebagai acuan dalam menentukan tingkat serangan penyakit DBD.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Mulya Achdami

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Peduli Pelanggan, PLN Cek kWh Meter Demi Keselamatan

Selasa, 6 Februari 2024 | 09:45 WIB

5 Perbedaan Antara Jaringan 4G dan 5G, Yuk Pelajari!

Kamis, 14 September 2023 | 13:00 WIB
X