JURNAL METROPOLITAN - Sebenarnya siapa yang dimaksud manusia terbaik menurut Al Qur'an? Yang jelas, Allah Subhanahu wataala menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna, selain dari segi fisik, tapi juga memiliki akal melebihi dengan makhluk lainnya.
Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc - pengasuh Pondok Pesantren Darush Sholihin, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta mengutip Kitab Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, dalam bab Kuutamaan Membaca Al-Qur’an.
Dalam hadits 993 Bukhari no. 5027 Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an disebutkan:
وَعَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ )) رَوَاهُ البُخَارِيُّ .
Baca Juga: Kini Diisukan Selingkuh, Dulu Reza Arap Buang Nama Depan dan Pindah Agama
Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Faedah hadits ini, kata ustadz Tuasikal, hadits ini memotivasi untuk mempelajari dan mentadaburi Al-Qur’an, juga mengenal hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an, akidah, perilaku umat sebelum Islam, perintah Allah, larangan-Nya. Itulah yang menyebabkan datangnya keberuntungan di dunia dan akhirat.
"Sudah sepatutnya bagi seorang yang berilmu menyebarkan ilmu setelah mempelajarinya. Belajar dan mengajarkannya itu sama-sama mendapatkan ganjaran," jelasnya.
Orang yang membaca Al-Qur’an tanpa panduan guru tentu tidak akan
benar dalam tajwid dan hukum-hukum bacaannya.
Orang yang membaca Al-Qur’an tanpa panduan guru tentu tidak akanbenar dalam tajwid dan hukum-hukum bacaannya.
Baca Juga: Masjid-masjid di Dunia Ini Wajib Dikunjungi Umat Islam
Oleh karena itu, tegas ustadz Abduh Tuasikal, dituntut bagi seorang muslim untuk mencari seorang guru untuk membenarkan bacaannya.
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa belajar dan mengajarkan Al-Qur’an
mencakup:
- mempelajari dan mengajarkan huruf-hurufnya
- mempelajari dan mengajarkan maknan
Yang kedua ini malah yang lebih utama karena makna itulah yang dimaksud tujuan mempelajari Al-Qur’an. Sedangkan, lafaz hanyalah wasilah (perantara). (Miftah Daar As-Sa’adah, 1:277).***