Ia menata ulang kebun dengan gaya taman botani Eropa, terinspirasi dari Richmond Park di Inggris, sebagai bentuk penghormatan untuk mendiang istrinya, Lady Olivia Mariamne. Taman tersebut kemudian menjadi simbol cinta sekaligus perhatian Raffles terhadap ilmu pengetahuan dan keindahan alam.
Baca Juga: Malam Sejarah dan Ragam Budaya Nusantara dalam Puncak HJB ke-543
Setelah renovasi selesai, para ahli botani mulai menyusun katalog berbagai jenis tanaman yang ada di kebun tersebut. Katalog ini diterbitkan pada tahun 1823 dan mendapat perhatian luas dari kalangan ilmuwan Eropa, yang menilai upaya Raffles sebagai langkah penting dalam pelestarian flora di wilayah jajahan.
Setelah masa Raffles berakhir, pengelolaan Kebun Raya Bogor diserahkan kepada ahli botani Belanda, Johannes Elias Teysman. Ia kemudian mengabdikan dirinya selama sekitar 50 tahun untuk merawat dan mengembangkan kebun tersebut.
Teysman tidak hanya merawat tanaman yang sudah ada, tetapi juga melakukan penanaman ulang berdasarkan kelompok keluarga tumbuhan untuk mencegah terjadinya persilangan yang tidak diinginkan. Ia ingin menjaga keaslian setiap spesies yang ada di kebun tersebut.
Selain flora, Teysman juga mengembangkan penangkaran berbagai satwa seperti rusa, burung merak, angsa hutan, hingga kancil. Upaya ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus melestarikan hewan-hewan yang mulai terancam punah akibat perburuan liar.
Catatan mengenai upaya ini bahkan pernah dimuat dalam surat kabar Belanda De Locomotief pada 9 Agustus 1939 dalam rubrik “Ledeboer’s Ideaal”.(*)
Artikel Terkait
Bunga Bangkai Amorphophallus Titanum Mekar Sempurna, Ratusan Pengunjung Padati Kebun Raya Bogor
Kebun Raya Bogor Jadi Lokasi Shalat Id Tingkat Kota Bogor, Kepala BRIN Bertindak sebagai Khatib
Momentum Idul Fitri di Kebun Raya Bogor, Prof Arif Satria Tekankan Rekonstruksi Peradaban