Fuad menyebut, proses penilaian dilakukan secara menyeluruh untuk melihat kesiapan peserta sebagai calon pelaksana tugas kenegaraan.
"Paskibraka bukan sekadar mencari peserta dengan nilai tertinggi pada satu tes saja," jelasnya.
"(Hal itu) melainkan memilih figur yang paling siap secara keseluruhan untuk menjalankan tugas kenegaraan," imbuh Fuad.
Soroti Akumulasi Nilai Peserta
Dalam kasus ini, Cathlyn disinyalir gagal melaju ke tingkat nasional meski mendapat nilai seleksi yang tinggi.
Terkait hal tersebut, Fuad mengatakan terdapat banyak komponen yang menjadi dasar penilaian, mulai dari kesehatan, kesamaptaan, peraturan baris-berbaris (PBB), kepribadian, wawasan kebangsaan, hingga kesiapan mental dan disiplin peserta.
Fuad menuturkan, seleksi dilakukan berjenjang mulai tingkat kabupaten atau kota, provinsi, hingga verifikasi nasional.
Dari setiap provinsi, pihaknya akan memilih 3 pasang peserta yang selanjutnya mengikuti tahapan seleksi pusat.
"Memang nanti ada perangkingan atau akumulasi nilai dari seluruh tahapan seleksi," beber Fuad.
"Akumulasi nilai tertinggi itulah yang menjadi pertimbangan untuk diutus mengikuti seleksi tingkat pusat," tandasnya.
Hingga berita ini terbit, belum ada keterangan lanjutan dari pihak sekolah maupun otoritas berwenang ihwal dugaan diskriminasi terhadap peserta Paskibraka asal Makassar tersebut.(*)