JURNAL METROPOLITAN -- Kemiskinan ekstrem dan stunting alias tengkes menjadi dua masalah krusial yang tengah dihadapi Pemprov DKI Jakarta.
Karenanya, Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono berusaha segera mengatasi masalah kemiskinan ekstrem dan angka stunting ini.
Bantuan sosial dan pemberian gizi tambahan untuk balita menjadi prioritas Heru Budi untuk menindaklanjuti masalah kemiskinan ekstrem dan stunting di Jakarta.
Bantuan sosial atau bansos senilai Rp17,18 triliun diberikan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Sedangkan pemberian gizi tambahan untuk balita dan vitamin untuk remaja di DKI untuk mengurangi angka stunting.
Diungkapkan Heru Budi Hartono bahwa dana sebesar Rp17 triliunan tersebut disalurkan dalam 17 berbagai skema bantuan.
Mulai dari Kartu Jakarta Pintar (KJP), Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU), bantuan sembako untuk pangan bersubsidi, Kartu Lansia hingga bantuan untuk pengangguran menjadi wirausaha.
Namun, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta per Maret 2022, Jakarta masih memiliki warga dengan kemiskinan ekstrem mencapai 95.668 jiwa.
Baca Juga: Kawasan Kumuh di Ibu Kota Lanjut di Benahi, Ini yang Akan Dilakukan Pemprov DKI Jakarta
Data itu mencapai 0,89 persen dari total jumlah warga DKI Jakarta sekitar 10,7 juta jiwa. Terjadi kenaikan 0,29 persen dibandingkan data Maret 2021 mencapai 0,6 persen.
Adapun kategori kemiskinan ekstrem berdasarkan revisi pada September 2022 oleh Bank Dunia di antaranya pengeluaran per hari per orang mencapai 2,15 dolar AS dari sebelumnya 1,90 dolar AS pada awal 2022.
Selain miskin ekstrem, Jakarta yang masih menjadi Ibu Kota Negara (IKN) juga masih memiliki kasus stunting.
Berdasarkan informasi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), angka prevalensi tengkes di Jakarta diperkirakan mencapai sekitar 14 persen dari total 790 ribu balita atau sekitar 110 ribu balita.