Untuk mempercepat koordinasi penanganan bencana, BNPB telah mengaktifkan jaringan komunikasi darurat berbasis Starlink di berbagai titik yang terdampak.
Langkah ini diambil karena sejumlah wilayah mengalami kerusakan jaringan komunikasi akibat banjir dan longsor.
"Langkah kami adalah kita memasang jalur komunikasi darurat jadi menggunakan Starlink," ungkap Suharyanto.
"Sudah didistribusikan baik ke pemerintah daerah, baik ke titik pengungsian maupun kepada satgas TNI," lanjutnya.
Baca Juga: Rocky Gerung Sebut Beban Psikologis Prabowo Sebagai Pemimpin dalam Setahun Pemerintahan
Dengan adanya jaringan darurat ini, komunikasi antara tim penyelamat, posko, dan pemerintah daerah dapat berjalan lebih lancar untuk mempercepat proses evakuasi dan distribusi bantuan.
Status Bencana Masih Tingkat Provinsi
Menanggapi pertanyaan publik soal kemungkinan penetapan status bencana nasional, Suharyanto menegaskan bahwa kejadian ini masih berada dalam kategori bencana daerah tingkat provinsi.
"Yang dimaksud dengan status bencana nasional yang pernah ditetapkan oleh Indonesia itu kan COVID-19," jelas Suharyanto.
"Sekarang statusnya masih bencana daerah tingkat provinsi," pungkasnya.
BNPB bersama TNI, Polri, Basarnas, pemerintah daerah, serta berbagai unsur relawan kini masih terus fokus pada upaya pencarian korban, penanganan pengungsi, pembukaan akses jalan, serta distribusi logistik darurat.
Pemerintah pusat memastikan seluruh sumber daya telah dikerahkan untuk mempercepat penanganan, terutama di wilayah yang mengalami kerusakan terberat.(*)
Artikel Terkait
BNPB: 27 Kecamatan di Karanaganyar Berpotensi Bahaya Tanah Longsor dan Banjir Bandang
BNPB Gelontorkan Dana Rp4,25 Miliar untuk Penanganan Bencana Banjir Jawa Tengah
BNPB Serahkan Bantuan Senilai Rp5,4 Miliar untuk Bencana Hidrologi Sulsel