JURNALMETROPOLITAN.com - Gambaran pilu mengenai krisis air bersih pascabanjir di sejumlah wilayah Aceh Tamiang kian nyata.
Di tengah minimnya akses bantuan, sejumlah warga terpaksa mengandalkan genangan air di bekas pabrik kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, meski kondisi air tersebut sudah berubah warna menjadi hijau.
Potret memprihatinkan ini terungkap melalui unggahan akun Instagram @Ladislao_9 pada Selasa, 23 Desember 2025.
Video tersebut memperlihatkan warga yang sedang mengambil air dari sebuah kilang atau tangki besar yang sudah lama terbengkalai.
Baca Juga: Kearifan Lokal Desa Sekumur: Manfaatkan Pasir dan Batu Jadi Saringan Air Alami di Aceh Tamiang
Ketiadaan pilihan lain membuat warga tidak lagi mempedulikan standar kesehatan air yang mereka gunakan.
Selama lebih dari dua minggu, air yang tergenang di area bekas pabrik tersebut menjadi satu-satunya sumber kehidupan mereka.
"Hampir 15 hari kami konsumsi air ini," ucap seorang warga dalam video tersebut, menggambarkan betapa lamanya mereka terjebak dalam krisis sanitasi.
Secara kasat mata, kualitas air tersebut sangat meragukan. Lapisan hijau menyelimuti permukaan air di dalam kilang besar itu, menandakan adanya lumut atau kontaminasi yang sudah berlangsung lama.
Baca Juga: Usai Bencana Sumatera, Ferry Irwandi Sarankan Strategi Baru Penanganan Banjir: dari Logjam hingga Bottleneck Sungai
"Bisa tengok airnya, memang hijau di atas, tapi kita tidak tahu di bawah seperti apa," lanjutnya dengan nada pasrah.
Meskipun menyadari risiko kesehatan yang mengintai, warga mengaku belum merasakan dampak buruk pada tubuh mereka.
Di tengah situasi darurat ini, mereka hanya bisa berserah diri dan menganggap ketahanan fisik mereka sebagai sebuah keajaiban di tengah bencana.
Saat ditanya mengenai kondisi kesehatan atau keluhan seperti sakit perut, warga tersebut menjawab dengan keyakinan yang menyentuh.
Baca Juga: Pakar Nilai Seskab Teddy Informasikan Penanganan Bencana Sumatera untuk Jawab Keresahan Publik
"Enggak ada (sakit perut), pertolongan Tuhan tentunya," pungkasnya.
Kisah dari bekas pabrik kelapa sawit ini menjadi alarm keras bagi pihak terkait mengenai urgensi pendistribusian air bersih di Aceh Tamiang.
Keberanian warga mengonsumsi air yang sudah menghijau adalah bukti nyata bahwa rasa haus dan kebutuhan dasar telah mengalahkan rasa takut mereka akan ancaman penyakit.***
Artikel Terkait
Potret Pilu Pasca-Banjir: Warga Aceh Tamiang Gunakan Air Resapan Sungai yang Kecokelatan
Potret Perjuangan di Aceh: Relawan Sedih Lihat Warga Jalan Kaki Cari Makan di Tengah Jalur Putus
Malam Mencekam di Aceh Tamiang: Warga Tidur di Atas Balok Kayu dan Menangis Minta Tolong