Warga Aceh Tamiang Ini Mengalah untuk Mendapatkan Huntara Demi Korban yang Lebih Terisolir: Kami Masih Bisa Dikunjungi Relawan

photo author
Dimas Pratama, Jurnal Metropolitan
- Selasa, 13 Januari 2026 | 11:40 WIB
Relawan Fahri Ibrochim membagikan kisah inspiratif salah satu warga Aceh Tamiang. (Instagram/fahriibrochim)
Relawan Fahri Ibrochim membagikan kisah inspiratif salah satu warga Aceh Tamiang. (Instagram/fahriibrochim)


JURNALMETROPOLITAN.com - Banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera pada akhir November 2025 lalu berdampak di 3 provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah di Provinsi Aceh yang terdampak paling parah bencana banjir dan tanah longsor tersebut.

Bantuan terus datang, mulai dari logistik, sandang, hingga hunian sementara atau huntara bagi warga terdampak.

Menjadi salah satu daerah terparah, menurut catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada sekitar 178.479 unit rumah warga mengalami kerusakan.

Baca Juga: Kegembiraan Anak-Anak Dusun Pedalaman Aceh Utara Terima Kasur dan Selimut, Warganet: Tetap Happy ya Kalian!

Meski begitu, muncul kisah inspiratif yang dibagikan oleh konten kreator sekaligus relawan, Fahri Ibrochim tentang penyintas banjir di Aceh Tamiang.

Merelakan Antrean Huntara Demi Penyintas Lain

Melalui unggahan video di akun Instagramnya, @fahriibrochim, menceritakan kisah seorang warga dari kampung Suka Jadi, Aceh Tamiang.

Ia mengatakan bahwa warga tersebut merelakan antrean tunggu huntara untuk penyintas lain.

“Ada satu ibu-ibu yang saya tanya, ‘Bu, apakah sudah terdaftar dalam orang yang akan mendapatkan rumah sementara atau huntara yang kemarin diresmikan oleh Bapak Presiden?’ kemudian, ibu itu menjawab, ‘Sudah, kami sudah dapat,’” ucap Fahri, dikutip dalam video yang dikutip pada Rabu, 7 Januari 2026.

Fahri melanjutkan bahwa warga tersebut berada di nomor 700 ketika suaminya mendaftar.

Baca Juga: Jadi Satu-satunya Akses Warga, Momen Tali Jembatan Desa Reje Payung Putus saat Relawan Meniti untuk Lansir Bantuan

Sebut Ada Penyintas yang Kondisinya Lebih Parah

Ia melanjutkan bahwa menurut keterangan warga tersebut, masih banyak korban atau penyintas yang kondisinya lebih parah darinya.

“‘Kami lebih mendahulukan saudara kami di titik lain yang mereka juga parah.’ Kemudian saya penasaran, saya tanya, ‘Ibu kan rumah hancur, harta benda hilang, kampung ini semua hancur. Maksudnya lebih parah apa?’” imbuhnya.

Menurut pengakuan Fahri, warga tersebut mengatakan bahwa penyintas lain akses jalan terputus, sehingga bantuan pun masih sulit untuk didapatkan.

“‘Jadi, mereka lebih berhak mendapatkanya lebih dulu daripada kami. Sedangkan kami yang hancur hanya rumah, yang hilang harta, akses kami masih bisa dikunjungi relawan,’” ucapnya menirukan perkataan warga tersebut.

“Itu membuat saya terkejut, ternyata saudara-saudara kita di Aceh Tamiang ini walaupun mereka kena musibah yang sama, rumah mereka hilang, harta hilang, mereka sesama korban banjir, mereka menganggap yang dirasakan masih ada orang yang membutuhkan,” tuturnya.

Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang

Proses pembangunan huntara dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan tengah dikebut agar bisa cepat selesai.

Baca Juga: Gelombang Tinggi dan Cuaca Ekstrem Intai Sulut, Viral Momen Air Laut Masuk ke Area Parkir Manado Town Square 3
Target Kementerian PU, progres pembangunan huntara telah mencapai sekitar 75 persen dan sebanyak 7 blok selesai pada Sabtu, 10 Januari 2026.

Pembangunan huntara direncanakan terdiri atas 7 blok bangunan modular dengan kapasitas masing-masing blok 12 kepala keluarga (KK) di Gampong Bundar, Aceh Tamiang. 

Satu blok dari 7 blok tersebut masih difungsikan sementara sebagai area penyimpanan material karena posisinya berada di bagian depan lokasi dan berbatasan langsung dengan jalan. 

Secara keseluruhan, huntara Aceh Tamiang dirancang untuk menampung sekitar 84 KK atau sekitar 336 jiwa dalam satu lokasi. 

Setiap blok dapat menampung hingga 12 KK atau sekitar 48 orang. 

Kawasan huntara ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung, antara lain toilet komunal, instalasi listrik dan pencahayaan, serta jaringan air bersih dan sanitasi guna menunjang aktivitas dan kebutuhan dasar warga selama masa tinggal sementara.(*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dimas Pratama

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X