JURNAL METROPOLITAN - Ingat Labuan Bajo, pasti terbanyang binatang purba melata yang menjadi salah satu objek wisatawan di daerah tersebut, bahkan termaksyur ke mancanegara.
Bicara Labuan Bajo dengan aneka cerita komodo sudah biasa. Namun yang luar biasa tentu yang menjadi tulisan ini diturunkan.
Betapa tidak! Anda pasti kenal Asam Jawa bukan? Tamanan dengan nama latin Tamarindus Indica atau lebih dikenal tamarind adalah tanaman insitu atau miliknya Jawa. Karena itu, mengapa tanaman yang nama dan rasanya buahnya sama ini, dikenal Asam Jawa karena historinya dari Pulau Jawa.
Baca Juga: Yuk Intip, Berbagai Fasilitas Di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu
Asam Jawa tidak hanya memiliki manfaat gastronomi, namun juga bermanfaat sebagai pakan satwa liar, utamanya bagi kakatua kecil jambul kuning, rusa timor, dan monyet ekor panjang.
Pohon Asam Jawa juga seringkali digunakan oleh anakan komodo untuk berlindung dari predator. Tak ayal, adanya pohon Asam Jawa di Taman Nasional Komodo berdampak pada kelimpahan populasi komodo.
Pohon Asam Jawa pun menjadi sangat esensial bagi keberlangsungan ekosistem dan kelestarian populasi biawak komodo di Taman Nasional Komodo.
Buah Asam Jawa pun memberi keuntungan bagi warga di sekitar Taman Nasional Komodo. Khususnya warga di wilayah Resort Loh Sebita Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Balai Taman Nasional Komodo.
Jika masa panen Asam Jawa tiba, biasanya pada Juli-Agustus, puluhan karung warga sekitar Resort Loh Sabita bisa memanen Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) ini.
Selain bisa diolah menjadi bahan panganan, Asam Jawa dilirik pula oleh seniman sebagai media untuk melukis.
Adalah tim dari ITB yang datang langsung ke Labuan Bajo untuk memberikan edukasi pemanfaatan Asam Jawa. Dari laman ITB disebutkan sejak tahun lalu,
Program Studi Seni Rupa, FSRD ITB, telah melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di SMK Negeri 3 Komodo, Labuan Bajo, dalam rangka meningkatkan ekonomi kreatif dan pariwisata.