JURNAL METROPOLITAN - Pemerintah Iran mengeksekusi mati
seorang warga negara Inggris-Iran yang pernah menjabat sebagai
wakil menteri pertahanannya, Alireza Akbari.
Sebelumnya London dan Washington bereaksi menentang rencana eksekusi mati tersebut seraya minta dibebaskan. Namun Iran tak menghiraukan sehingga dia dijatuhi hukuman mati atas tuduhan mata-mata untuk Inggris.
Pemerinta Inggris menyebut kasus eksekusi mati terhadap Alireza Akbari tidak lain bermotivasi politik. Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak, mengutuk eksekusi tersebut. PM baru Inggris itu menyebutnya "tindakan tidak berperasaan dan pengecut yang dilakukan oleh rezim barbar".
Baca Juga: Inggris Hajar Iran Hingga Babak Belur di Piala Dunia
Media Iran Mizan melaporkan, Pengadilan Iran menyebut eksekusi
tersebut tanpa mengatakan kapan eksekusi itu dilakukan.
Pada Jumat malam, Menteri Luar Negeri Inggris James Cleverly telah mendesak Iran untuk tidak menindaklanjuti hukuman tersebut.
Sementara itu, Amerika Serikat dan Prancis, mengecam eksekusi mati tersebut. Bahkan, kedua negara ini mengancam akan semakin memperburuk hubungan Iran yang telah lama tegang dengan Barat.
Bersitegang antara Iran dan Barat telah memburuk sejak
pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir
2015 menemui jalan buntu dan setelah Teheran melancarkan
tindakan keras yang mematikan terhadap pengunjuk rasa tahun
lalu.
Dalam rekaman audio yang konon dari Akbari dan disiarkan oleh
BBC Persia pada hari Rabu, dia mengatakan telah mengakui
kejahatan yang tidak dia lakukan setelah penyiksaan yang
ekstensif.
"Alireza Akbari, yang dijatuhi hukuman mati atas tuduhan korupsi
di bumi dan tindakan ekstensif terhadap keamanan internal dan
eksternal negara melalui spionase untuk dinas intelijen
pemerintah Inggris ... dieksekusi," kata Mizan.
Baca Juga: Dame Vivienne Westwood, Perancang Busana Ikonoklastik Inggris Meninggal di Usia 81 Tahun
Laporan Mizan menuduh Akbari menerima pembayaran sebesar
1.805.000 euro ($1,95 juta), 265.000 pound ($323.989,00), dan
$50.000 untuk kegiatan mata-mata.
Dia mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa
eksekusi tidak akan "tidak tertandingi".
Dia kemudian mengumumkan Inggris telah memanggil Kuasa Usaha Iran, menjatuhkan sanksi pada jaksa agung Iran, dan untuk sementara menarik duta besarnya dari Teheran untuk konsultasi lebih lanjut.
Ini menandai kasus langka Republik Islam yang mengeksekusi
seorang pejabat atau mantan pejabat senior. Salah satu kejadian
terakhir terjadi pada tahun 1984, ketika komandan angkatan laut
Iran Bahram Afzali dieksekusi setelah dituduh menjadi mata-mata
Uni Soviet.
Artikel Terkait
Usai Satu Anak Keracunan, Dinas Kesehatan Sleman 'Cari' Pedagang Cikbul di Pasar Malam
Usung Konser Alam, Iwan Fals Kolabarasi dengan Penyanyi Dua Generasi
Asia Heritage, Tempat Wisata di Pekanbaru Paling Kekinian
Syukuran Kawiyan Jadi Komisioner KPAI, Ngundang Wartawan Silaturrahim dan Makan Malam
Ferry Irawan Ditetapkan Tersangka KDRT Terhadap Istrinya Venna Melinda, Terancam Hukuman 5 Tahun Penjara
Hindari Tergusur dari Klasemen, Bali United Bermain Habis-Habis Hadapi Persija Malam Ini