Indonesia merupakan negara terbesar di dunia yang terdiri dari 17.499 pulau. Membentang dari Sabang sampai Merauke dengan luas wilayah mencapai 7,81 juta kilometer persegi, dimana dua pertiga wilayahnya merupakan lautan.
Baca Juga: Artis Senior Tanah Air, Anjasmara Belajar Langsung Soal Tanaman Hias di Kebun Raya Bogor
Selain itu, Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua dengan 108 ribu kilometer, memiliki wilayah terumbu karang terluas 2,5 juta hektare, dan produsen ikan tangkap kedua di dunia.
Dengan lanskap seperti itu, maka tak aneh bila Indonesia memiliki potensi kekayaan sumber daya laut yang luar biasa, khususnya di sektor perikanan.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan potensi kekayaan laut Indonesia hampir mencapai Rp 20.000 triliun per tahun, tepatnya Rp US$1,33 triliun atau Rp19.950 triliun (Kurs Rp15.000).
Baca Juga: Progres Pembangunan Jembatan Otista On The Track, Uji Beban Segera Dilakukan
Namun masalahnya, potensi sebesar itu belum terolah sepenuhnya. Sejauh ini, sektor maritim baru menyumbang 7,6 persen dari PDB (2021). Angka yang masih kecil bagi negara maritim sebesar Indonesia.
Selain itu, masyarakat yang beririsan dengan laut justru banyak yang terpinggirkan. Data BPS memotret bahwa tingkat kemiskinan di pesisir mencapai 10,23% dan kemiskinan ekstrem hingga 1,23%.
Angka ini relatif lebih tinggi dibanding dengan masyarakat non-pesisir yang 'hanya' 7,89% (tingkat kemiskinan) dan 0,94% (kemiskinan ekstrem). Sementara angka nasional menunjukkan tingkat kemiskinan 9,36% dan kemiskinan ekstrem 1,12%.
Pasangan Capres-Cawapres nomor urut 03, Ganjar Pranowo dan Mahfud MD bertekad untuk mewujudkan Ekonomi Biru yang memaksimalkan potensi kemaritiman Indonesia. Gagasan itu tertuang dalam visi dan misi Ganjar-Mahfud yang mengangkat tema 'Menuju Indonesia Unggul Gerak Cepat Mewujudkan Negara Maritim yang Adil dan Lestari'.
Ganjar-Mahfud berkomitmen untuk memaksimalkan potensi ekonomi biru dengan mengakselerasi 11 potensi ekonomi maritim.
Diantaranya, perikanan tangkap, perikanan budidaya, industri pengolahan hasil perikanan, industri bioteknologi kelautan, pertambangan dan energi (ESDM), pariwisata bahari, hutan bakau, perhubungan laut, sumber daya wilayah pulau-pulau Kecil, industri dan jasa maritim, serta terakhir SDA nonkonvensional.(*)
Artikel Terkait
Punya Kepengurusan Baru, Andi M Ridwan Nahkodai PFI Bogor
Gelar Silaturahmi, Mahfud MD Kunjungi Pesantren Bakom Bogor
Ravindra Airlangga Mendorong Budidaya Cabai di Pekarangan, Sebagai Upaya Mitigasi Harga Melambung