"Sedangkan air itu melintas sesuai dengan jalur yang dilewati sejak ribuan tahun lalu. Tapi akhirnya ada lingkungan binaan, yaitu manusia, yang tinggal di situ, membangun rumah, dan sebagainya, sehingga aliran air alami ini, badan-badan air alami ini, mengecil, menyempit, terjadi sedimentasi," jelas Hery.
Ditambah lagi, perubahan tata guna lahan di hulunya menyebabkan air banyak langsung masuk ke saluran tanpa sempat meresap di hulu, sehingga meningkatkan debit air.
Jadi, menurut Hery, gabungan antara cuaca ekstrem, debit air yang meningkat, badan air yang kapasitasnya terbatas, dan budaya masyarakat yang mungkin ikut berkontribusi—seperti perilaku buang sampah sembarangan—menyebabkan badan air tidak bisa menampung debit air, terutama ketika masuk cuaca ekstrem.
Solusi jangka menengah dan panjang untuk mengatasi banjir, disampaikan Hery, adalah normalisasi saluran, membuat embung, atau dengan upaya menata kembali sempadan sungai.
Baca Juga: KPU Kabupaten Bogor Tetapkan Hasil Suara Pilbup 2024, Ini Hasilnya!
"Kalau untuk penataan sempadan sungai, membuat embung, atau kolam retensi, ya harus ada lahan yang dibebaskan," ujarnya.(*)
Artikel Terkait
Partisipasi Pemilih di Kota Bogor hanya 63 Persen saat Pilkada 2024, KPU Beberkan Alasannya
Pj Wali Kota Bogor Lepas PSB U-17, Siap Tanding di Kancah Nasional
Rakor TPPS Kota Bogor, Pj Sekda Targetkan Penurunan Stunting di 2025