Tragedi Sitahuis Tapteng: Warga Minum Air Hujan hingga Saksikan Anak Menggigil Kedinginan di Tengah Hutan

photo author
Dimas Pratama, Jurnal Metropolitan
- Rabu, 24 Desember 2025 | 12:15 WIB
Tangkapan layar seorang warga Tapanuli Tengah yang mengenang bagaimana banjir dan longsor menerjang rumahnya dan memaksa mereka tidur di hutan. (TikTok/zaits_bf)
Tangkapan layar seorang warga Tapanuli Tengah yang mengenang bagaimana banjir dan longsor menerjang rumahnya dan memaksa mereka tidur di hutan. (TikTok/zaits_bf)



JURNALMETROPOLITAN.com - Bayang-bayang malam mencekam masih terekam jelas di ingatan seorang ibu warga Desa Mardame, Kecamatan Sitahuis, Tapanuli Tengah

Saat longsor dan banjir bandang meluluhlantakkan tempat tinggalnya, ia dan keluarganya harus menjalani perjuangan hidup yang luar biasa di tengah kepungan bencana yang memutus segala akses.

Kisah perjuangan bertahan hidup yang menyayat hati ini dibagikan oleh akun TikTok @zaits_bf pada Senin, 22 Desember 2025. 

Dalam narasi yang penuh kegetiran, wanita tersebut menceritakan bagaimana ia harus berupaya menyelamatkan keluarganya tanpa bekal apa pun yang tersisa.

Baca Juga: Modal Lampu Mobil, Warga Desa Pematang Durian Kompak Buka Akses Jalan yang Tertimbun Lumpur Banjir

Ketika rumah hancur dan api tak bisa menyala karena guyuran hujan yang tak henti, warga ini terpaksa melakukan apa saja demi mengganjal perut yang lapar dan tenggorokan yang haus. 

Tidak ada air bersih maupun makanan hangat di tengah kondisi darurat tersebut.

"Air hujan diminum, ada ubi tapi tak dimasak, semua hujan jadi enggak ada api," ucap wanita tersebut.

Akses jalan yang tertutup longsor di berbagai titik membuat mereka tidak memiliki pilihan selain berlindung di balik rimbunnya hutan. 

Baca Juga: Teringat Anaknya yang Meninggal karena Banjir di Tapanuli Selatan, sang Ayah Cerita Detik-Detik Air Datang Bawa Kayu Gelondongan

Mereka terjebak, tidak bisa menuju ke tempat pengungsian karena jalur evakuasi yang lumpuh total.

"Di sini longsor, di sana longsor, jadi enggak ada jalan, jadi kami satu malam tidur di hutan," lanjutnya menceritakan situasi mencekam saat itu.

Puncak kepedihan sang ibu adalah saat harus melihat anak-anaknya terpapar udara dingin tanpa pelindung yang memadai. 

Seluruh pakaian mereka basah kuyup dan tidak ada satu pun baju kering yang tersisa setelah rumah mereka tersapu bencana.

Baca Juga: Tak Ada Pilihan, Warga Desa Sekumur Terpaksa Konsumsi Air Genangan Banjir demi Bertahan Hidup

Ia hanya bisa menatap pasrah saat sang anak harus tertidur dalam kondisi yang sangat memprihatinkan di tengah kegelapan.

"Karena tidak ada baju ganti, anakku tertidur tapi menggigil," pungkasnya dengan nada bicara yang menyiratkan luka mendalam.

Kisah dari Desa Mardame ini menjadi potret nyata betapa besarnya trauma dan penderitaan yang dirasakan warga di wilayah pelosok yang sulit terjangkau bantuan saat bencana melanda. 

Kebutuhan akan pakaian kering, makanan layak, dan pembukaan akses jalan kini menjadi hal yang sangat dinanti oleh para penyintas.(*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dimas Pratama

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Koperasi, Pondasi Penguatan Ekonomi Kerakyatan

Minggu, 31 Mei 2026 | 19:32 WIB
X