Ia juga menjelaskan, KPU Kota Bogor telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat di Pilkada, termasuk bekerja sama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dan menyampaikan informasi melalui masjid-masjid.
"Upaya sudah kita lakukan berbagai macam, bahkan pada hari H itu kami bekerjasama dengan Pemerintah Kota Bogor, bahkan menyiarkan di masjid-masjid agar seluruh warga masyarakat menyalurkan hak pilihnya," jelasnya.
"Upaya maksimal sudah KPU Kota Bogor lakukan," sambungnya.
Habibi melanjutkan, salah satu penyebab utama rendahnya partisipasi warga adalah adanya rasa jenuh terhadap pemilu. Hal itu diketahui berdasarkan wawancara pihak KPU kepada masyarakat.
"Mungkin ada kejenuhan dari masyarakat karena pemilu sebelumnya masih dekat. Ini bisa jadi bahan evaluasi untuk pemilu mendatang," ujarnya.
Namun, jumlah ini tidak sepenuhnya mencerminkan masyarakat yang benar-benar tidak memilih. Ada faktor lain, seperti data pemilih yang tidak terdistribusikan dengan baik.
"Beberapa C6 (formulir pemberitahuan memilih) tidak terdistribusikan karena alasan seperti pemilih sudah meninggal dunia atau berpindah domisili," tandasnya.
KPU Kota Bogor menyadari, perlunya strategi baru untuk meningkatkan partisipasi.
"Kami akan menjadikan ini bahan evaluasi bersama. Partisipasi masyarakat adalah kunci keberhasilan demokrasi, dan kami berkomitmen untuk memperbaiki hal ini di masa mendatang," pungkasnya.(*)