Langkah inovasi tak berhenti di dapur. Tim akademisi menyadari bahwa bentuk kue yang sudah cantik akan percuma jika tidak dikemas dan dipasarkan dengan benar. Oleh karena itu, dilakukan re-branding total.
Kemasan plastik mika yang tipis ditinggalkan. UMKM didorong menggunakan kemasan food-grade berbentuk boks premium yang dilengkapi dengan stiker identitas merek (logo), tanggal kedaluwarsa, dan nomor PIRT.
Baca Juga: Perkuat Kapasitas Petugas Kebersihan, Kebun Raya Bogor Gelar Bimtek Pengelolaan Sampah
Kemasan yang estetik ini menjadi amunisi utama untuk masuk ke ranah Pemasaran Digital (Digital Marketing). Dengan tampilan yang Instagrammable (layak foto), para pelaku UMKM kini lebih percaya diri mempromosikan produk mereka melalui media sosial seperti Instagram, WhatsApp, dan TikTok, serta mulai mendaftarkan usahanya di platform layanan pesan-antar makanan online (food delivery).
Paham HPP: Kunci Menentukan Harga Jual dan Profit Terukur
Satu permasalahan klasik UMKM yang juga dituntaskan oleh Tim PKM Unpak adalah literasi keuangan. Selama ini, para perajin seringkali menentukan harga jual hanya berdasarkan "perkiraan" atau ikut-ikutan harga tetangga, tanpa perhitungan yang rinci. Akibatnya, omzet terlihat besar, namun keuntungan bersih (profit) tidak terukur dengan jelas.
Untuk mengatasi ini, tim memberikan edukasi dan simulasi penyusunan Harga Pokok Produksi (HPP). Para perajin diajarkan cara menghitung seluruh komponen biaya—mulai dari bahan baku, biaya kemasan premium yang baru, hingga biaya tenaga kerja dan overhead (seperti gas dan listrik).
Baca Juga: THE 1O1 Bogor Suryakancana Gelar Hospitality Competition 2026, Dorong Talenta Muda Pariwisata
Dengan mengetahui HPP yang presisi, pelaku UMKM dapat menentukan harga jual yang rasional dan menerapkan strategi premium pricing. Konsumen ternyata rela membayar sedikit lebih mahal untuk produk yang terlihat lebih higienis, menarik, dan berkelas, namun perajin tetap memiliki margin keuntungan yang terukur dan aman.
Omzet Melonjak, Bukti Sinergi yang Berhasil
Hasil dari pendampingan menyeluruh ini terbukti sangat memuaskan. Tingkat keberhasilan adopsi inovasi mencapai 100%.
Dampaknya langsung terasa pada kantong para perajin. Berdasarkan hasil evaluasi, dalam waktu satu bulan pasca pendampingan, terjadi peningkatan volume penjualan antara 30% hingga 45%. Pemahaman tentang HPP dan pemasaran digital membuat omzet tersebut benar-benar diterjemahkan menjadi laba bersih yang jauh lebih baik bagi perajin.
Kisah dari Desa Pandansari ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara dunia akademis dan pelaku UMKM dapat menghasilkan dampak ekonomi yang konkret. Dengan inovasi produk, pemanfaatan digital marketing, dan dasar pengelolaan keuangan (HPP) yang kuat, jajanan pasar tradisional siap bersaing di era modern.(*)