JURNALMETROPOLITAN.com - Jajanan pasar atau kue basah selalu memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Indonesia. Namun, seiring ketatnya persaingan dan perubahan tren konsumen, rasa yang enak saja tak lagi cukup.
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dituntut untuk terus berinovasi agar tidak tergerus zaman.
Hal inilah yang menjadi sorotan Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pakuan (Unpak) Bogor. Terdiri dari Hari Muharam, Ramlan, dan May Mulyaningsih dan Mahasiswa sebagai tim ini turun tangan mendampingi 9 (sembilan) Industri Kecil Menengah (IKM) pembuat kue basah di Desa Pandansari, Kabupaten Bogor, yang sebelumnya sempat mengalami stagnasi penjualan.
Terjebak Cara Konvensional
Sebelumnya, para perajin kue basah di Desa Pandansari memproduksi jajanan dengan varian rasa dan bentuk yang monoton. Tak hanya itu, dari segi presentasi, mereka masih mengandalkan kemasan konvensional berupa plastik mika polos tanpa identitas merek.
Baca Juga: Bangun Narasi Positif, Pemda dan TNI-Polri Diajak Adaptif Bermedia Sosial
Akibatnya, meski rasanya lezat, produk mereka sulit bersaing. Penjualan hanya berputar di pasar tradisional sekitar, dan sangat sulit untuk menembus pasar modern, apalagi merambah ekosistem pemasaran digital yang sangat mengandalkan daya tarik visual.
Strategi Diversifikasi: "Bite-Size" dan Rasa Kekinian
Melihat permasalahan tersebut, Tim PKM Unpak menerapkan pendekatan Participatory Action Research (PAR). Mereka tidak hanya memberikan teori, tetapi terjun langsung mendampingi proses produksi (prototyping). Langkah pertama yang dilakukan adalah diversifikasi produk.
Para perajin diajak "naik kelas" dengan menciptakan varian rasa baru yang sedang tren di kalangan anak muda, seperti matcha, premium cheese, dan red velvet.
Selain rasa, bentuk kue pun dimodifikasi. Jika sebelumnya kue basah dipotong dalam ukuran besar, kini diubah menjadi ukuran bite-size (sekali gigit). Konsep ini dinilai lebih praktis, elegan, dan cocok dijadikan sajian untuk acara-acara formal maupun hidangan kafe.
Re-Branding Kemasan untuk Ekosistem Pemasaran Digital
Artikel Terkait
Berbagi Kebahagiaan di Momen Lebaran, Seskab Teddy Sebut Bazar Rakyat Beri Hiburan untuk Masyarakat dan Hidupkan UMKM
Kementerian UMKM Dorong Produk Lokal Tembus Pasar China
Kementerian UMKM Perkuat Promosi Produk Lokal dalam ASEAN Plus Cadet Sail 2026 di Belawan