Namanya Tersemat di Ruang Rapat Lantai 2 Kantor Bupati Bekasi, Siapa K.H. Raden Ma'mun Nawawi?

photo author
Egis Yulianti, Jurnal Metropolitan
- Kamis, 13 Oktober 2022 | 12:30 WIB
Nama KH. Ma'mun Nawawi disematkan di Ruang Rapat Lt. 2 Kantor Bupati Bekasi (Humas Pemkab Bekasi)
Nama KH. Ma'mun Nawawi disematkan di Ruang Rapat Lt. 2 Kantor Bupati Bekasi (Humas Pemkab Bekasi)

JURNAL METROPOLITAN - Janji Pj Bupati Bekasi Dani Ramdan untuk menyematkan nama K.H. Ma'mun Nawawi sebagai nama ruang rapat Bupati Bekasi sudah direalisasikan.

Masyarakat dan tamu yang berkunjung ke Komplek Pemda, Cikarang Pusat, kini dapat melihat nama K.H. Raden Ma'mun Nawawi yang terpampang di depan ruang rapat bupati yang terletak disulung Lantai 2 Kantor Bupati Bekasi.

Pj Bupati Bekasi Dani Ramdan mengatakan, pemerintah daerah terus berupaya mengusulkan K.H. Ma'mun Nawawi sebagai Pahlawan Nasional. Salah satunya dengan mengusulkan nama Jalan Raya Cikarang-Cibarusah menjadi Jalan KH. Ma'mun Nawawi.

Baca Juga: Penyidik Siapkan 30 Pertanyaan untuk Tersangka Kasus KDRT, Pengacara Minta Penangguhan Penahanan Rizky Billar

Siapakah KH Ma'Mun Nawawi?

K.H. Ma’mun Nawawi adalah seorang tokoh ulama sekaligus pejuang yang berasal dari daerah Cibogo, Kecamatan Cibarusah, Bekasi.

Ulama yang produktif sebagai penulis 63 kitab ini lahir di Cibogo pada hari Kamis bulan Jumadil Akhir 1334 H/1915 M.

Beliau adalah putra sulung dari tujuh bersarudara, orangtuanya KH. R. Anwar seorang pedagang sekaligus guru mengaji dan Siti Romlah.

Baca Juga: Rizky Billar Tersangka Kasus KDRT, Visum-CCTV Jadi Bukti

KH. R. Anwar sendiri adalah putra Marhan bin H. Abdul Wahid, salah seorang keturunan dari Kerajaan Banten.

Berdasar garis keturunan tersebut, tidak heran bila Nawawi memperoleh pendidikan yang berkaitan dengan agama Islam. Tidak lama setelah menamatkan pendidikan dasar di usia yang baru mencapai 13 tahun, anak dari KH. R. Anwar ini nyantri di Plered Sempur asuhan Tubagus Ahmad Bakri bin Seda (Mama Sempur) hingga tujuh tahun lamanya.

Baca Juga: Hari Jumat Hasil Investigasi Tragedi Kanjuruhan Akan Diserahkan ke Presiden

Selesai nyantri di sempur, Nawawi hijrah ke Mekkah selama dua tahun (1937-1939) untuk memperdalam ajaran Islam dengan berguru pada 13 muallif (pengarang kitab).

Kembali dari Mekkah, atas saran Sang Ayah pada tahun 1942 Nawawi nyantri lagi di beberapa pesantren guna lebih memperdalam ilmu, seperti: Pesantren Tebuireng (Jombang) asuhan Hadhratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari dan pesantren asuhan Syaik Ikhsan (Jampes Kediri).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Egis Yulianti

Tags

Rekomendasi

Terkini

Koperasi, Pondasi Penguatan Ekonomi Kerakyatan

Minggu, 31 Mei 2026 | 19:32 WIB
X