Warga Curhat 10 Jam Jalan Kaki dari Sitahuis ke Sibolga karena Makanan Habis: Kami Semangat Jemput Bahan Pokok

photo author
Dimas Pratama, Jurnal Metropolitan
- Selasa, 23 Desember 2025 | 11:39 WIB
Tangkapan layar seorang bocah yang dengan gembira menerima bantuan makanan dan pakaian di tengah suasana pengungsian banjir Aceh Tamiang. (TikTok/zaits_bf)
Tangkapan layar seorang bocah yang dengan gembira menerima bantuan makanan dan pakaian di tengah suasana pengungsian banjir Aceh Tamiang. (TikTok/zaits_bf)



JURNALMETROPOLITAN.com - Sejumlah daerah di Kabupaten Tapanuli Tengah masih kesulitan akses karena putusnya jalan akibat banjir dan longsor yang terjadi pada akhir November lalu.

Salah satu desa yang masih terisolasi adalah Bonan Dolok, Kecamatan Sitahuis.

Beredar video di media sosial, warga Bonan Dolok harus berjalan kaki hingga 10 jam untuk mengambil bantuan logistik.

Jalan Kaki dari Sitahuis ke Sibolga Demi Sembako

Perjuangan warga untuk mendapatkan bantuan logistik harus ditempuh dengan berjalan kaki selama 10 jam sambil melewati jalanan yang licin hingga kondisi cuaca yang masih belum menentu.

“Meskipun hujan, kami tetap semangat menjemput bahan pokok di dapur, kami berjalan. Sekali berjalan, kami perlu 5 jam,” ucap warga dalam video yang diunggah akun TikTok @zaits_bf pada Kamis, 18 Desember 2025.

Baca Juga: Dari Ulang Tahun hingga Acara Natal Sekolah, Momen Kebersamaan Shandy Aulia dengan David Herbowo Demi sang Anak Tuai Pujian Warganet

“Jadi, dari Sitahuis ke Sibolga kami pulang pergi butuh 10 jam” lanjutnya.

Harapan Terbukanya Akses Jalan

Dalam video itu juga terucap harapan agar pemerintah memberikan perhatian pada kondisi akses jalan yang masih terputus.

“Buat bapak dan ibu, tolong lihat kami. Kami di sini di Sitahuis sedang berduka terjadinya longsor, bahan makanan di sini tidak ada,” imbuhnya.

“Mohon bapak ibu bisa melihat kami, jalan kami tertutup,” tambahnya.

Baca Juga: Pasangan di Aceh Tamiang Gelar Pernikahan di Tengah Puing Kayu dan Sisa Banjir, Rayakan Momen Bahagia Bersama Warga Pengungsian

Menurut keterangan dalam video juga menyebutkan bahwa warga yang akan mengambil bantuan harus melewati hutan.

8 Desa di Tapanuli Tengah Masih Terisolir

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapanuli Tengah (Tapteng) mencatat per Rabu, 17 Desember 2025, korban yang meninggal dunia ada 131 orang dan 41 orang lainnya sedang dalam pencarian.

Menurut data dari BPBD, jumlah pengungsi ada 10.887 jiwa yang tinggal tersebar di 12 kecamatan.

Mengenai akses, ada dua desa yang akses jalannya sudah diperbaiki, sehingga tak lagi terisolir yakni Desa Hudopa Nauli dan Kelurahan Sipange.

Baca Juga: Petani di Tapanuli Tengah Harus Lewati Jalan Bekas Longsoran hingga Seberangi Sungai untuk Menjual Durian
Sementara 8 desa lainnya masih terisolir, salah satunya adalah Bonan Dolok dan 7 lainnya adalah Saur Manggita, Sait Kalangan 2, Sibiobio, Sialogo, Naga Timbul, Simaninggir, serta Kelurahan Simaninggir.
***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dimas Pratama

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X