Duka Anak Aceh Tamiang: Berharap Sajadah untuk Mama dan Sedih Lihat Sekolah Hancur Diterjang Banjir

photo author
Dimas Pratama, Jurnal Metropolitan
- Rabu, 24 Desember 2025 | 12:03 WIB
Tangkapan layar seorang anak yang meminta sajadah untuk ibunya. (TikTok/zaits_bf)
Tangkapan layar seorang anak yang meminta sajadah untuk ibunya. (TikTok/zaits_bf)



JURNALMETROPOLITAN.com - Di tengah puing-puing sisa banjir bandang yang meluluhlantakkan Aceh Tamiang, seorang bocah laki-laki berdiri membawa sebuah permintaan yang menyayat hati.

Bukan mainan atau makanan manis yang ia cari di antara lumpur, melainkan sebuah sarana ibadah untuk sang ibu.

Kisah mengharukan ini terekam dalam sebuah video yang dibagikan oleh akun TikTok @zaits_bf pada Minggu, 21 Desember 2025. 

Dengan wajah polos dan nada bicara yang lirih, bocah tersebut menyampaikan keinginan sederhananya agar ibundanya tetap bisa bersujud kepada Sang Pencipta meski rumah mereka telah porak-poranda.

Baca Juga: Dukung GEMAR, Jenal Mutaqin: Terima Kasih Tenaga Pendidik

Banjir bandang yang datang menerjang rupanya tidak hanya menghanyutkan harta benda, tetapi juga perlengkapan ibadah yang sangat berarti bagi keluarga ini. 

Ketika ditanya apa yang ia butuhkan saat ini, bocah itu menjawab dengan lugas.

"Minta sajadah buat mama shalat," ucap bocah tersebut dalam tayangan video yang viral.

Saat disinggung mengapa ia sampai harus meminta sajadah, jawaban singkatnya menggambarkan betapa dahsyatnya air yang meluap hingga menyapu bersih isi rumah mereka. 

"Enggak ada (sajadahnya), hanyut," lanjutnya dengan tatapan kosong.

Baca Juga: Hadiri Perayaan Natal 2025 GBKP Bogor Barat, Dedie Rachim Sampaikan Pesan Kebersamaan

Selain kesedihan di rumah, anak ini juga harus menghadapi kenyataan pahit mengenai masa depannya. 

Aktivitas belajarnya terhenti total bukan karena ia enggan melangkah ke kelas, melainkan karena gedung tempatnya menimba ilmu kini tak lagi berbentuk.

Banjir bandang tersebut dilaporkan tidak menyisakan ruang bagi anak-anak untuk mengecap pendidikan dalam waktu dekat.

"Sekolahnya hancur," kata anak itu dengan singkat.

Kisah bocah dari Aceh Tamiang ini menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa di balik angka-angka kerugian bencana, ada kebutuhan batin dan pendidikan anak-anak yang terenggut.(*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dimas Pratama

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X