Ramai Negara Terapkan WFH untuk Hemat BBM Termasuk di RI, Publik Diingatkan seperti Krisis Energi di 1970-an

photo author
Dimas Pratama, Jurnal Metropolitan
- Senin, 30 Maret 2026 | 14:11 WIB
Gambar Ilustrasi Work From Home (WFH). (RAS/Terpantau)
Gambar Ilustrasi Work From Home (WFH). (RAS/Terpantau)

Baca Juga: Cucu Mpok Nori jadi Korban Pembunuhan, Kejadian Tragis Terungkap Gegara sang Ibu Datangi Rumah Jelang Subuh

Hal itu, disebabkan karena konflik AS-Israel dengan Iran yang telah mempersempit Selat Hormuz, yang merupakan jalur air sempit yang dilalui sekitar 20 persen minyak dan gas alam cair dunia setiap hari.

Sementara Qatar, yang memproduksi 20 persen Liquified Natural Gas (LNG) global, telah menghentikan produksi sepenuhnya.

"Bagi sebagian besar warga Amerika, naluri pertama adalah menyaksikan angka di SPBU naik dan merasa tidak berdaya," ungkap Fortune dalam artikelnya yang tayang pada 15 Maret 2026.

"Tetapi bagi orang-orang di atas 65 tahun (kelahiran 1960-an), momen saat ini membawa jenis ketakutan yang berbeda," sambungnya.

Menurut catatan sejarah, hal ini terkait dengan krisis energi global yang pernah terjadi di 1970-an.

Negara Arab Embargo AS usai Perang Yom Kippur

Dalam laporan yang sama, pada Oktober 1973, negara-negara Arab anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak atau Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) mengumumkan embargo terhadap AS.

Baca Juga: KPK Akui Eks Menag Yaqut jadi Tahanan Rumah, Ungkap Perubahan Status Bukan karena Sakit

Hal tersebut, dinilai sebagai balasan atas dukungan militer terhadap Israel selama Perang Yom Kippur pada tahun yang sama.

"Saat itu, mereka tidak hanya menaikkan harga tetapi mereka juga mengurangi pasokan energi," tulis Fortune.

Bagi yang belum tahu, Perang Yom Kippur (6-25 Oktober 1973) adalah konflik bersenjata antara Israel dan koalisi negara Arab (Mesir dan Suriah) yang terjadi pada hari suci Yahudi Yom Kippur dan bulan Ramadhan.

Perang ini, yang juga dikenal sebagai Perang Oktober atau Perang Ramadan, bertujuan merebut kembali wilayah yang diduduki Israel dalam Perang 6 hari di tahun 1967 silam.

"Dalam beberapa minggu, harga bensin di SPBU melonjak 40 persen hanya dalam 1 bulan," ungkap Fortune.

"Pada pertengahan 1974, harga efektif telah meningkat 3 kali lipat, dan ketersediaan bahan bakar runtuh (pada masa itu)," tambahnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dimas Pratama

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X