Hal tersebut, mulai dari kualitas bahan baku yang tidak sesuai standar, fasilitas dapur yang dinilai tidak memenuhi petunjuk teknis Badan Gizi Nasional (BGN).
Kasus yang tak kalah menyita perhatian, saat Abri menuding balik pihak yayasan melakukan dugaan mark up harga dan keterlambatan distribusi bahan baku.
Terlebih, Abri juga menuding mitra dapur MBG tersebut melakukan tekanan psikologis terhadap dirinya.
"Mereka menyampaikan punya banyak media dan video itu terus dijadikan dasar tekanan psikologi kepada saya," terangnya.
Laporkan Balik Pihak Yayasan
Abri menyebut, laporan yang disampaikannya ke BGN berujung pada keluarnya surat peringatan pertama (SP1) terhadap dapur tersebut hingga akhirnya diterbitkan surat pemberhentian sementara pada 21 Mei 2026.
Selain itu, Abri mengungkapkan dapur yang dipimpinnya sempat hampir mengalami kebakaran beberapa hari lalu akibat fasilitas yang belum sesuai standar operasional.
Baca Juga: Festival Tangguh Bencana Bogor Utara Hadirkan Edukasi Kebencanaan dan Pelatihan Kerja
Dalam video klarifikasinya, Abri mengaku memilih tetap melaporkan dugaan pelanggaran demi menyelamatkan program pemerintah, meski mendapat tekanan dari sejumlah oknum yang tak bertanggung jawab.
"Dengan integritas penuh, saya memilih menyelamatkan duit negara yang tersalurkan pada program ini daripada kepentingan pribadi saya," bebernya.
Hingga berita ini terbit, belum ada keterangan resmi dari pihak yayasan maupun otoritas berwenang ihwal tudingan yang disampaikan Kepala SPPG di Sibolga Selatan, Sumut tersebut.(*)
Artikel Terkait
Viral Kasus Keracunan MBG di Demak, Ratusan Santri dari 5 Ponpes jadi Korban
Heboh Dugaan Menu MBG di SMA Nabire Papua Tengah, Pertama Kalinya Ada Sepotong Rendang hingga Buah Semangka
Viral Pedagang Tahu Krispi di Bekasi Jadi Korban Tewas dalam Kecelakaan Mobil MBG, Sempat Koma Akibat Luka Berat di Kepala