"Kalian (netizen) yang sering suudzon, berhati busuk, dengki," ujar Wehelmi sebagaimana dikutip dari unggahan Instagram @feedgramindo, pada Sabtu, 28 Maret 2026.
"(Netizen) mengatakan program ini hanya proyek para petinggi, apa kalian tidak berpikir?" sambungnya.
Bela Pelaku Joget Rp6 Juta
Pernyataan Wehelmi menjadi lanjutan dari polemik sebelumnya, saat pemilik SPPG di Bengkulu itu juga sempat membela pelaku joget MBG.
Dalam kasus itu, Wehelmi menjelaskan, angka Rp6 juta per hari bukanlah keuntungan bersih yang diterima pihak SPPG.
Menurutnya, hal itu melainkan masih digunakan untuk menutup biaya operasional serta investasi besar pembangunan dapur SPPG.
Di sisi lain, Wehelmi menyinggung program MBG memiliki dampak positif terhadap masyarakat, khususnya dalam menggerakkan sektor ekonomi lokal.
Pemilik SPPG di Bengkulu itu menilai program tersebut telah mendorong peningkatan aktivitas di sektor pertanian dan peternakan.
"Para petani sekarang bergairah, petani sayur mulai menambah lahan. Peternak telur dan ayam juga sudah bersiap," terang Wehelmi.
"Ini akan menumbuhkan ekonomi kerakyatan dan perputaran uang di daerah," tambahnya.
Perilaku Pemilik SPPG Kian Dipantau
Ramainya kontroversi yang muncul dari segelintir oknum pemilik SPPG itu kembali memicu beragam reaksi dari masyarakat.
Sebagian pihak menilai pelaku program perlu dihargai karena telah berkontribusi dalam pelaksanaan MBG.
Terkhusus, terkait etika penyampaian, transparansi anggaran, serta profesionalisme dalam menjalankan program MBG yang berskala nasional tersebut.