Mengulas Asal Usul Nama 'Rawa Belong', Ternyata Awalnya Dari Kata Ini!

photo author
Dimas Pratama, Jurnal Metropolitan
- Selasa, 19 September 2023 | 14:20 WIB
Metamorfosa Rawa Belong, Dari Tempatnya Buaya Sampai ke Pasar Bunga (Istimewa)
Metamorfosa Rawa Belong, Dari Tempatnya Buaya Sampai ke Pasar Bunga (Istimewa)

 

JURNALMETROPOLITAN.com -- Rawa Belong telah lama menjadi tempat yang terkenal sebagai sarang para Jagoan Betawi sejak pertengahan abad ke-19. Awalnya, tempat ini hanya merupakan simpang jalan yang menghubungkan Jalan Palmerah Barat, Jalan Kebayoran Lama, dan Jalan Rawa Belong itu sendiri.

Terdapat beberapa versi mengenai asal nama Rawa Belong. Beberapa orang mengklaim bahwa nama tersebut berasal dari kata "marsose" (prajurit) Belanda, sementara yang lain berpendapat bahwa nama itu merujuk kepada tempat yang berawa (rawa).

Menurut Nur Ali Akbar, seorang sesepuh Rawa Belong, nama pertigaan ini diambil dari lokasi dekat kuburan batu di Kampung Srengseng, Jakarta Barat, yang disebut Rawa Balong.

Baca Juga: Masih, Jakarta Kota Berpolusi di Dunia !

“Kalau tidak adu maen pukul, ya maen jurus, dadu atau sabung ayam. Pecahan uangnya berupa peser, sen. Benggol (5 sen), picis (10 sen), dan setalen 25 sen” jelas lelaki yang akrab dipanggil Haji Nunung seperti dikutip Betawipos.

Pada suatu waktu, seorang marsose yang berdiri di pertigaan tersebut salah menyebut nama Rawa Balong sebagai Rawa Blong. Masyarakat yang mendengarnya kemudian menyebut simpang tersebut sebagai pertigaan Rawa Belong.

Pada awalnya, Rawa Belong hanya memiliki panjang sekitar 25 meter dan terdiri dari sejumlah warung kopi dan penjual makanan. Warung-warung di Rawa Belong menjadi tempat berkumpul warga dari berbagai kampung di sekitarnya, termasuk Kampung Sukabumi, Kemanggisan, Kemandoran, Palmerah, dan Kebon Nanas. Pemuda dari Kampung Pos Pengumben, Joglo, Meruya, Kebon Jeruk, Sengseng, dan Kampung Rawa juga sering mengunjungi tempat ini.

Baca Juga: Fakta Menarik Menara Saidah, Jadi Ikon Kota Jakarta

Tidak jauh dari pertigaan, arah menuju Kebayoran Lama, terdapat istal (bengkel kereta dan tempat istirahat kuda). Pertigaan ini dulunya merupakan bagian dari jalur utama delman, sehingga terdapat sebuah kampung bernama Kampung Delman di dekatnya.

Karena letaknya yang strategis, warga kampung sering menyebut Rawa Belong saat memberikan alamat kepada kenalan atau keluarga yang tinggal jauh. Ini berguna jika seseorang mencari mereka di pertigaan Rawa Belong, dan mereka bisa bertanya kepada orang-orang di sekitarnya.

Seiring berjalannya waktu, pertigaan Rawa Belong berkembang menjadi tempat para buaya, atau jawara Betawi, berkumpul. Di tempat ini, mereka menguji dan mengembangkan kemampuan bela diri mereka. Warga Rawa Belong menjadi dikenal sebagai orang-orang yang penuh keberanian. Terkenal dengan legenda Si Pitung dan pertarungan pukul Cingkrik. Meskipun begitu, mereka juga terkenal karena keramahan terhadap tamu, sopan santun, dan ketaatan dalam beribadah.

Saat ini, Rawa Belong memiliki citra yang berbeda dengan masa lalu. Lebih dikenal sebagai pasar bunga daripada sarang jawara dan seni bela diri Betawi. Perubahan zaman telah membawa perubahan signifikan dalam karakter dan fungsi tempat ini.(*)

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dimas Pratama

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X