Eksposisi eksplorasi pemanfaatan buah pala di kampung buntar yang sejarahnya dikenal sebagai desa penghasil buah pala sejak dulu namun mulai terkikis oleh arus pengalih pemanfaatan tanah menjadi daerah pemukiman.
Kampung Buntar dulunya dikenal sebagai penghasil buah pala (myristica fragrans), namun sempat mengalami penurunan dan banyak pengusaha olahan pala yang mengambil pala dari luar kampung akibat kesulitannya mendapatkan dari kampung sendiri.
Berawal dari pengalihgunaan lahan kebun menjadi pemukiman mewah, sebagai salah satu kota satelit dari jakarta, satu diantara program besutan Pemkot Bogor melalui DKPP dalam melakukan penghijauan serta memperluas cakupan urban farming dengan melakukan restorasi kebun.
Program urban farming yang disinergikan dengan kampung tematik dan identitas lokal melalui pemberdayaan kelompok tani dan usaha mikro kecil dan menengah yang digerakan oleh warga menunjukan perubahan yang positif bagi perkembangan ekonomi masyarakat.
Sekilas tentang Buah Pala
Buah pala berbentuk lonjong seperti lemon, berwarna kuning, berdaging dan beraroma khas karena mengandung minyak atsiri pada daging buahnya. Ketika sudah masak, kulit dan daging buah membuka, akan terlihat biji berwarna coklat yang terbungkus fuli merah.
Tanaman pala merupakan tanaman yang cukup lama pertumbuhannya hingga masa panen. Panen pertama dilakukan tujuh sampai sembilan tahun setelah pohonnya ditanam dan mencapai kemampuan produksi maksimum setelah 25 tahun. Pohon pala dapat tumbuh hingga 20 meter dan usianya bisa mencapai ratusan tahun.
Pala merupakan salah satu jenis rempah-rempah yang banyak digunakan dalam industri makanan, farmasi, dan kosmetik. Bahkan, biji dan fuli pala (selaput biji) kebanyakan digunakan sebagai rempah-rempah, sementara daging buah pala sering diolah menjadi macam-macam produk pangan seperti sirup, manisan, jeli, selai.
Baca Juga: KemenKop: Program COIN 2024 Jadi Media Pengembangan Strategis Koperasi Di Kota Metropolitan
Selain itu, nilai gizi yang terkandung pada setiap 100gr daging buah pala adalah sebanyak 42kal, 0,30gr protein, 0,20gr lemak, 10,90gr karbohidrat, 32mg kalsium, 24mg fosfor, 1,50gr besi, 29,50iu vitamin a, 22mg vitamin c dan 88,10gr air.
Hal yang perlu mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah maupun petani adalah daging buah pala, yang perbandingan hasil biji pala dengan daging buah pala adalah 1:4, namun daging buah pala sampai saat ini masih kurang mendapat perhatian, karena dianggap kurang mempunyai nilai ekonomi, jika dibandingkan dengan biji dan fulinya.
Padahal, daging buah pala merupakan komponen terbesar sebesar 77,9%, dibandingkan dengan tempurung 5,1%, dan biji pala 17%.
Baca Juga: Kota Bogor Jadi Tuan Rumah Riksa Budaya Jawa Barat