"2.000 di antaranya itu 3B, balita, ibu menyusui, dan ibu hamil, yang didrop di posyandu-posyandu, dan sisanya ke sekolah," sambungnya.
Atas hal tersebut, Sudaryono menilai skema penyaluran MBG ke posyandu dengan sekolah ini berbeda.
"Kalau sekolah kan sekali drop banyak, tapi kalau posyandu ini, ya kan ibu hamil, nggak terkonsentrasi dalam satu tempat," bebernya.
"Jadi dia ada kerepotan karena ngantar ke banyak posyandu tadi," imbuh Sudaryono.
Ancam Tutup SPPG yang Tak Sesuai Standar
Menurut Sudaryono, sidak dilakukan sebagai bagian dari pengawasan rutin sekaligus bentuk apresiasi kepada pengelola SPPG yang telah menjalankan tugas sesuai standar.
Baca Juga: Gerai Kopdes di Batam Tutup Diduga Gegara Modal Seret, Kini Tersisa Etalase yang Kosong Melompong
"Sidak ini untuk menyemangati SPPG yang sudah bekerja dengan baik," jelasnya.
Sudaryono menegaskan, BGN tidak akan memberikan toleransi terhadap SPPG yang mengabaikan standar kebersihan maupun keamanan pangan dalam proses penyediaan makanan.
"Secara umum, banyak SPPG yang bagus, tetapi masih ada 1-2 SPPG yang belum memenuhi standar," ungkapnya.
"Yang belum itu akan kami benahi, dan kalau memang tidak bisa diperbaiki, akan kami tutup," tukas Sudaryono.(*)
Artikel Terkait
Kepala BGN Beberkan Proyeksi Anggaran MBG Tahun 2026, Rencanakan Gelontorkan Rp1,2 Triliun per Hari
Saat Bencana Landa Sumatera, Beredar Video Kepala BGN Main Golf hingga Bikin Geram Warganet di Medsos
Menu MBG Dituntut Berkualitas Bintang 5 dengan Harga Rp10 Ribu, Apa Sebenarnya yang Diinginkan Kepala BGN?