JURNALMETROPOLITAN.com - Aktivitas belajar terlihat pada bangunan eks Gedung Wyata Guna di kawasan pegunungan Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat, pada Kamis, 13 November 2025.
Terlihat, ruangan Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 11 Bandung Barat dipenuhi suara guru yang mengajar dan siswa yang mencatat pelajaran.
Seorang guru muda berdiri di depan kelas menjelaskan materi pelajaran, sementara deretan bangku kayu terisi oleh para siswa di SRMP 11 Bandung Barat.
Para siswa itu diketahui, merupakan anak-anak yang sebelumnya hampir putus sekolah yang kini mendapat kesempatan baru untuk melanjutkan pendidikan.
Setelah menjalani renovasi besar melalui dukungan infrastruktur dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU), fasilitasnya kini berubah total.
Baca Juga: Kementerian PU Jelaskan Fungsi 'Dry Dam' yang Jadi Karakteristik Unik Bendungan Ciawi dan Sukamahi di Bogor
Ruang kelas menjadi lebih nyaman, asrama putra dan putri tertata bersih, ruang makan diperluas, laboratorium juga dibangun ulang.
Bahkan, tempat belajar baru, mulai dari kasur hingga meja-kursi dan kipas angin, dihadirkan untuk mendukung kegiatan belajar di SRMP 11 Bandung Barat.
Anak-Anak Kembali Menata Harapan
Salah satu siswa kelas VIII, Muhammad Daffa Raasyid mengaku telah merasakan langsung perubahan itu.
Baginya, SRMP 11 ini bukan sekadar sekolah, melainkan awal kehidupan baru bagi sang siswa.
Baca Juga: Penjelasan Bupati Bener Meriah yang Bikin Geram Warganet usai Viral Rombongan Warga Jalan Kaki Puluhan Km di Aceh Tengah
“Terima kasih Bapak Prabowo karena telah membuat Sekolah Rakyat ini sehingga saya dan teman-teman bisa kembali merasakan bangku sekolah,” ucap Daffa.
Ungkapan itu disampaikannya, setelah mengingat surat yang pernah ia kirimkan kepada Presiden RI, Prabowo Subianto.
Menteri PU, Dody Hanggodo menjelaskan, pembangunan sekolah rakyat ini merupakan langkah pemerintah untuk menghadirkan pendidikan yang layak dan merata hingga ke daerah-daerah yang sulit menjangkau sekolah formal.
Sejak resmi beroperasi pada Oktober 2025 lalu, SRMP 11 Bandung Barat langsung menjadi rumah kedua bagi 100 siswa dari keluarga kurang mampu.
Mereka tinggal, belajar, dan dibimbing oleh 33 tenaga pendidik dalam sistem boarding school yang terstruktur.
3 Kurikulum Khusus untuk Siswa
Wakil Kepala Sekolah, Deni Hermawan menjelaskan, SRMP 11 menggunakan tiga kurikulum yang dirancang khusus untuk kondisi peserta didiknya.
Baca Juga: Saat Bencana Landa Sumatera, Beredar Video Kepala BGN Main Golf hingga Bikin Geram Warganet di Medsos
Kurikulum Persiapan (3 bulan), dilaksanakan pada Juli–September, fokusnya mengembalikan motivasi belajar.
Sekitar 80 persen siswa sebelumnya tidak bersekolah atau sudah bekerja, sehingga tahap ini penting untuk membentuk kembali dasar kompetensi dan karakter.
Selanjutnya, terdapat kurikulum Inti yang dimulai Oktober, mengikuti Kurikulum Nasional. Pembelajaran dan asesmen berlangsung layaknya sekolah reguler.
Terakhir, yakni kurikulum keasramaan. Sebagai sekolah berasrama, pembinaan karakter dilakukan sejak sore hingga malam.
Jika guru bertugas dari pukul 07.00 sampai 16.00, maka asisten asrama melanjutkan pembinaan hingga pukul 21.00, yang dimulai dari kegiatan harian, kedisiplinan, hingga ibadah berjemaah.
“Kami juga menerapkan sistem multi entry–multi exit bagi anak-anak lulusan SD dua sampai tiga tahun sebelumnya yang belum pernah melanjutkan sekolah," tutur Deni.
Baca Juga: Warga Curhat 10 Jam Jalan Kaki dari Sitahuis ke Sibolga karena Makanan Habis: Kami Semangat Jemput Bahan Pokok
"Mereka tetap masuk kelas VII, namun didampingi sesuai kemampuan masing-masing,” tambahnya.
Sekolah yang Mengutamakan Kesempatan Kedua
Meski beberapa siswa rumahnya cukup dekat, aturan sekolah mewajibkan seluruh peserta didik tinggal di asrama demi konsistensi pembinaan.
Pernah ada seorang anak yang ingin bersekolah tetapi menolak tinggal di asrama, pihak sekolah akhirnya memindahkannya ke sekolah lain terdekat.
Diketahui, prinsip para siswa sederhana, yaitu yang terpenting anak tetap sekolah, di mana pun itu.
Seleksi siswa dilakukan melalui data Kemensos. Anak dari kategori Data Kemiskinan (DCL 1 dan 2) akan disurvei pendamping PKH, menjalani asesmen, serta pemeriksaan kesehatan sebelum ditetapkan dinas sosial.
Baca Juga: Dari Ulang Tahun hingga Acara Natal Sekolah, Momen Kebersamaan Shandy Aulia dengan David Herbowo Demi sang Anak Tuai Pujian Warganet
Pada tahun 2025, dari lebih dari 180 calon, hanya 100 yang bisa diterima karena keterbatasan dukungan dan SDM.
“Banyak anak yang kalau tidak ada Sekolah Rakyat, mereka tidak punya pilihan lain. Rumah jauh, kondisi ekonomi sulit, dan akses sekolah formal hampir tidak mungkin,” ungkap Deni.
Baru tiga bulan berjalan, sejumlah siswa mengaku mulai betah tinggal di asrama, bahkan ingin segera kembali ke sekolah saat libur nasional.
Orang tua pun melihat perubahan nyata, terutama dalam kedisiplinan dan rutinitas ibadah.
Renovasi 20 Sekolah Rakyat Tahap I di Jabar Rampung
Di lain pihak, Kepala Satker Pelaksanaan Prasarana Strategis Jawa Barat, Tomi Hendratno menjelaskan renovasi Sekolah Rakyat Tahap I di Jawa Barat telah tuntas di 20 lokasi, termasuk SRMP 11 Bandung Barat.
Baca Juga: Pasangan di Aceh Tamiang Gelar Pernikahan di Tengah Puing Kayu dan Sisa Banjir, Rayakan Momen Bahagia Bersama Warga Pengungsian
“Dengan fasilitas yang lebih layak dan aman, sekolah rakyat diharapkan mampu menjadi pusat pembelajaran yang mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak dini,” kata Tomi.
Hingga kini, di tengah sejuknya lereng pegunungan Cisarua, SRMP 11 Bandung Barat bukan hanya bangunan baru di tengah udara pegunungan, tetapi ruang yang memberi banyak anak kesempatan untuk kembali bermimpi dan mengejar masa depan.***
Artikel Terkait
Pembukaan MPLS Sekolah Rakyat, Siapkan Generasi Emas 2045
Seskab Teddy Ungkap Presiden Lakukan Ratas Virtual dengan Menko dan Mensesneg, Bahas Sekolah Rakyat hingga Cuaca Ekstrem
Kemensos Siapkan Ribuan Laptop dan Seragam untuk Siswa Sekolah Rakyat, Saifullah Yusuf: Tidak Ada Kongkalikong