Sempat Terisolir, Warga Aceh Tamiang Ini Ungkap Kisah Bertahan Hidup dengan Makan Telur Sebesar Ruas Jari: Kadang Lebih Pahit Lagi

photo author
Dimas Pratama, Jurnal Metropolitan
- Selasa, 23 Desember 2025 | 12:14 WIB
Cerita warga Aceh Tamiang yang berbagi telur saat 3 hari terisolir. (Instagram/pempek_funny)
Cerita warga Aceh Tamiang yang berbagi telur saat 3 hari terisolir. (Instagram/pempek_funny)



JURNALMETROPOLITAN.com - Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah paling parah terdampak banjir dan longsor yang menerjang Sumatera pada akhir November lalu.

Hingga kini, pemerintah dan relawan masih terus memasok bantuan logistik kepada warga di kawasan yang pernah disebut sebagai ‘Kota Zombie.’

Pasalnya, kondisi gelap gulita, mobil terbengkalai pascabanjir, hingga lumpur setinggi atap rumah banyak ditemui di Aceh Tamiang.

Cerita salah satu warga Aceh Tamiang pun menambah kisah bagaimana cara bertahan hidup usai rumahnya diterjang banjir.

Makan Seadanya, 2 Butir Telur untuk 23 Orang

Diunggah oleh akun Instagram @pempek_funny, seorang warga di Aceh Tamiang menceritakan saat mereka terjebak banjir yang masih tinggi.

Baca Juga: Keluhkan Fasilitas yang Rusak Parah Imbas Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Bandingkan Kondisi saat Tsunami di 2004 Silam

Ketika air belum surut dan bantuan belum datang, mereka yang di sana saling berbagi makanan agar tetap bertahan hidup.

“Dua butir telur untuk kami makan 23 orang, potong segini-gini lah bu,” ujar warga tersebut, dikutip pada Jumat, 19 Desember 2025.

Saking terbatasnya telur, ukuran yang dibagikan kepada 23 orang hanya sebesar satu ruas jari.

“Untuk rasa aja, kan nikmat itu. Kan ke depan kita ngak tahu ya, kadang lebih pahit lagi, itu kita makan sedikit-sedikit,” lanjutnya.

Bantuan Datang, Makanan untuk Pengungsi Mulai Tercukupi

Warga tersebut kemudian menceritakan bahwa setelah berbagai makanan dalam kondisi yang sangat terbatas, bantuan mulai berdatangan setelah 3 hari terisolir.

Baca Juga: Didukung Kementerian PU, Fasilitas SRMP 11 Bandung Barat Kini Membuat Siswanya Nyaman Belajar untuk Raih Masa Depan

“Alhamdulillah, 3 hari udah ada orang yang kirim-kirim (bantuan) kayak ibu ini, ada juga yang deket-deket sini. Ada Indomie, lumayan. Alhamdulillah,” imbuhnya.

Lebih lanjut, banjir yang menerjang pun ikut merendam area persawahan milik warga.

Padi yang mulai siap panen pun, menurut pengakuannya sebagian masih dimanfaatkan untuk dikonsumsi.

“Padi tenggelam, hitam-hitam kami jemur, jadi beras hitam,” lanjutnya.

Update Korban Meninggal Banjir Sumatera 

Menurut data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Jumat, 19 Desember 2025 sampai pukul 10.50 WIB, total korban meninggal dunia banjir dan longsor Sumatera 1.068 orang, 190 orang masih dinyatakan hilang, dan lebih dari 7 ribu orang mengalami luka.

Baca Juga: Kementerian PU Jelaskan Fungsi 'Dry Dam' yang Jadi Karakteristik Unik Bendungan Ciawi dan Sukamahi di Bogor


Rinciannya dari 3 provinsi adalah di Aceh, korban meninggal ada 456 orang dan 31 orang masih hilang.

Kemudian di Sumatera Utara, jumlah korban meninggal dunia ada 366 orang dan 75 orang lainnya hilang serta di Sumatera Barat, sebanyak 246 orang meninggal dunia dan 84 masih dinyatakan hilang.

Adapun khusus untuk Aceh, 18 kabupaten terdampak banjir dan longsor hingga merusak 106.060 unit rumah warga, baik itu kategori rusak ringan hingga berat.

Selain Aceh Tamiang, Aceh Utara juga menjadi wilayah dengan dampak parah pascabanjir.(*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dimas Pratama

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X