Dalam penuturannya, Mandhara menyebut skandal terungkap saat konferensi ilmiah untuk para ahli pneumonia seluruh dunia yang berlangsung pada 17-21 Mei 2026 lalu.
Mandhara menyebut, terdapat oknum periset asal Indonesia yang terdiri dari 3 orang, yakni Prihatini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti.
Kendati demikian, kelompok periset itu diduga telah mengikuti konferensi dengan hasil penelitian palsu.
Skandal ini disinyalir jadi modus terduga pelaku untuk mendapatkan travel grant dalam konferensi ilmiah di Denmark tersebut.
"Saat ini, ilmuwan Indonesia di tingkat dunia sangat sedikit jumlahnya. Dengan kejadian ini, akan semakin sulit lagi," ungkap Mandhara.
Dugaan Identitas Palsu, Riset AI
Pada unggahannya, Mandhara juga menjelaskan temuan-temuan awal pada dugaan skandal riset palsu ini.
Salah satunya mengarah pada aksi anggota kelompok periset, yang diduga telah memalsukan identitas selama presentasi dengan menggunakan nama-nama yang berbeda, hingga kalung identitas berbeda.
Seluruh materi presentasi juga hasil risetnya diduga merupakan hasil fabrikasi data via AI.
Peneliti Udayana itu juga menyebut, penelitian tersebut diduga tidak pernah dilakukan.
"Datanya palsu di-generate AI, gambar dan tulisannya juga," beber Mandhara.
Lembaga Fiktif yang Tuai Sorotan
Dalam salinan artikel ilmiah yang dibagikan Mandhara, kelompok Rifaldy Fajar cs diduga menggunakan 2 nama lembaga sebagai identitas mereka.
Lembaga pertama adalah AI-BioMedicine Research Group, IMCDS-BioMed Research Foundation di Jakarta dan Universitas Negeri Yogyakarta di Sleman.