Hadis dan Sejarah Salat Idul Fitri di Lapangan yang Umum Dilakukan di Indonesia

photo author
Dimas Pratama, Jurnal Metropolitan
- Senin, 31 Maret 2025 | 21:10 WIB
ilustrasi shalat ied (madaninews)
ilustrasi shalat ied (madaninews)




JURNALMETROPOLITAN.com - Ada dua tempat yang umum digunakan umat Muslim di Indonesia untuk melaksanakan salat Idul Fitri.

Salat Idul Fitri atau Idul Adha, selain dilaksanakan di masjid juga bisa dilaksanakan di lapangan.

Rupanya, ada sejarah dan alasan mengapa salat Idul Fitri ini dilakukan di lapangan.

Salat Ied Pertama yang Dilakukan di Lapangan

Mengutip dari laman resmi Muhammadiyah, Haedar Nshir dalam buku Muhammadiyah Gerakan Pembaruan yang terbit tahun 2010 telah mencatat sejarah salat Ied pertama di lapangan.

Baca Juga: Perhatikan dari Berasnya hingga Cara Penyimpanan, Berikut 5 Tips Menjaga Ketupat Lebaran Agar Tidak Cepat Basi

Salat Ied di lapangan pertama kali dilakukan oleh Muhammadiyah pada tahun 1926.

Lokasi yang digunakan saat itu adalah Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta.

Keputusan tersebut juga berasaskan pada hasil Kongres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya.

Hadis Salat Ied di Tanah Lapang

Dari abu Sa’id al-Khudri r.a berkata: “Rasulullah SAW keluar ke lapangan tempat salat pada hari Idul Fitri dan Idul Adha, lalu yang pertama yang dilakukannya adalah salat, kemudian berangkat dan berdiri menghadap jamaah, sementara jamaah tetap duduk pada saf masing-masing lalu Rasulullah menyampaikan wejangan, pesan, dan beberapa perintah” (HR al-Bukhari).

Baca Juga: Apakah Boleh Puasa Saat Hari Raya Idul Fitri? Begini Penjelasan dari Hadis Rasulullah SAW

Hadis tersebut yang digunakan oleh Muhammadiyah untuk landasan salat Ied di lapangan.

Berawal dari Kritikan Tamu India

Dalam buku Muhammadiyah dalam Perspektif Sejarah, Organisasi, dan Sistem Nilai yang terbit tahun 2019 mengungkapkan bahwa salat Ied di lapangan bermula dari sebuah kritikan.

Kritikan itu datang dari tamu India di era kepemimpinan Kiai Ibrahim tahun 1923 hingga 1933.

Masih mengutip dari laman resmi Muhammadiyah, diceritakan bahwa tamu tersebut mempertanyakan mengapa organisasi yang telah memposisikan diri sebagai gerakan Tajdid atau pencerahan ini masih menggunakan Masjid Keraton Yogyakarta untuk salat Idul Fitri.

Baca Juga: Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bogor Sambut Warga di Open House Lebaran

Menurutnya, seharusnya Muhammadiyah sudah mulai melakukan salat Idul Fitri di lapangan seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Padahal, penggunaan Masjid Keraton Yogyakarta untuk menghormati Sultan Hamengkubuwono VII.

Penghormatan itu dilakukan setelah Muhammadiyah mendapatkan izin untuk merayakan hari besar Islam yang berbeda dengan Keraton.

Pasalnya, sejak dulu sampai saat ini, Muhammadiyah menggunakan hisab dan kalender Hijriah, sementara Keraton menggunakan kalender Jawa atau Aboge.

Baca Juga: Rekomendasi 5 Ucapan Lebaran Idul Fitri 2025 yang Penuh Makna: Taqabbalallahu Minna Wa Minkum, Mohon Maaf Lahir dan Batin

Salat Ied di Lapangan Dilakukan Sampai Sekarang

Pelaksanaan salat Ied di lapangan kemudian sesuai dengan keputusan Muktamar tahun 1926.

Sejak saat itu, berbagai cabang Muhammadiyah yang ada di seluruh Indonesia mulai untuk melaksanakan salat Ied di lapangan sampai saat ini.(*) 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dimas Pratama

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X