“Kami berharap proses pemulihan dapat berlangsung dalam satu hingga dua hari ke depan sehingga anak-anak dapat kembali beraktivitas,” lanjutnya.
Makanan yang diduga jadi penyebab keracunan adalah menu spageti pada hari tersebut, tapi pemeriksaan oleh laboratorium tetap dilakukan.
“Saya lihat sebagian besar yang korban terdampak, memang diduga dari makanan spageti-nya. Diduga ya, tapi saya tidak mau berandai-andai, nanti biar laboratorium atau pihak yang bertanggung jawab yang akan menyampaikan secara terbuka,” imbunya.
Menurutnya, penyebab pastinya masih harus menunggu hasil resmi dari laboratorium.
Baca Juga: ICCN dan Greeneration Foundation Jalin Kolaborasi untuk Ekonomi Kreatif Berkelanjutan
Sementara itu, pada hari Kamis, menu MBG yang dibagikan adalah mix vegetables, scramble egg tofu, stroberi, bolognese sauce, bakso 3 butir, dan spageti.
Biaya Perawatan Ditanggung BGN
Adapun mengenai beban biaya perawatan korban keracunan MBG ini akan ditanggung oleh pihak Badan Gizi Nasional (BGN).
“Kami sudah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional. Fokus utama saat ini adalah memastikan seluruh siswa tertangani dengan baik dan keluarga tidak dibebani persoalan biaya pengobatan,” ungkap Pramono.
“Re-covery mudah-mudahan satu sampai dua hari semuanya sudah selesai,” tambahnya.
Operasional SPPG Pondok Kelapa 2 Dihentikan
Atas kejadian keracunan ini, operasional SPPG Pondok Kelapa 2 dihentikan untuk sementara dan akan dilakukan evaluasi.
Meski SPPG terkait sedang berhenti, BGN tetap memberikan alternatif SPPG lainnya agar pembagian MBG di sekolah penerima manfaat tetap berjalan seperti biasa.(*)
Artikel Terkait
DPRD Ingatkan SPPG Agar Prioritaskan Lapangan Kerja Untuk Warga RT/RW Setempat
Bukan Antar Omreng MBG, Mobil SPPG Ini Justru Diduga Jemput Penumpang hingga Dipakai Berwisata di Lombok
Siswanya Kepalang Pulang, Wali Murid SD di Gresik Ini Ungkap Banyak Makanan MBG yang Tak Diambil karena SPPG Telat Pengantaran