JURNALMETROPOLITAN.com - Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor, Denny Mulyadi, membuka workshop bertema Mental Sehat di Masa Emas, Creating Toxic-Free Environment at Work di Paviliun BSI, Jalan Pajajaran, Kota Bogor, Jumat (22/5/2026).
Workshop ini menjadi penting, mengingat permasalahan kesehatan mental terus mengalami peningkatan, mulai dari gangguan ringan hingga berat. Kecemasan dan depresi pun semakin banyak dialami, terutama oleh kelompok usia produktif dan para pekerja.
Dalam sambutannya, Denny Mulyadi menyampaikan sejumlah langkah penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat.
Baca Juga: Jembatan Penghubung Paledang–Pasir Jaya Akan Dibangun, Target November Selesai
Langkah tersebut dimulai dari membangun budaya saling menghormati melalui penerapan etika komunikasi yang sopan dan profesional, serta menghindari budaya saling menyalahkan dengan tetap menghargai perbedaan pendapat.
“Selanjutnya, kepemimpinan yang sehat melalui keteladanan pemimpin, terbuka terhadap kritik, dinamis, adil dalam pembagian tugas, dan tidak otoriter. Transparansi komunikasi juga penting, yakni menyampaikan informasi pekerjaan dengan jelas dan terukur waktunya,” kata Denny Mulyadi.
Ia menambahkan, sistem penilaian yang adil, pencegahan bullying dan pelecehan, serta menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi juga menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat.
Selain itu, kolaborasi perlu dibangun sebagai super team, bukan kompetisi yang tidak sehat, serta perlunya evaluasi organisasi yang dilakukan secara berkala.
Direktur Utama RSUD Kota Bogor, Sri Nowo Retno, dalam laporannya menyampaikan bahwa tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi saat ini.
Baca Juga: Jelang Iduladha 1447 H, Pemkot Bogor Periksa Kesehatan Hewan Kurban di Bubulak
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar, angka gangguan emosional di tingkat nasional mencapai 9,8 persen dan mayoritas dialami perempuan maupun laki-laki usia produktif. Sementara itu, prevalensi depresi di Jawa Barat berada pada angka 3,3 persen.
“Hasil skrining Pamong Walagri semester II tahun 2025 menunjukkan dari 17.730 ASN yang diperiksa, faktor penyakit tidak menular masih menempati posisi terbanyak. Mulai dari kurang aktivitas fisik sebesar 40,04 persen, gejala masalah kesehatan jiwa sebesar 1,37 persen, konsumsi garam berlebih sebesar 36,67 persen, obesitas IMT sebesar 38,25 persen, kurang konsumsi buah dan sayur sebesar 37,29 persen, serta hiperkolesterol sebesar 34 persen,” jelas Retno.
Artikel Terkait
Ketua DPRD Kota Bogor Audiensi dengan GMKI: Bahas Pendidikan, Infrastruktur, dan Tata Ruang
Adityawarman Adil Dorong Kolaborasi DPRD dan YJI Kota Bogor untuk Edukasi Jantung Sehat
DPRD Kota Bogor Dorong Kampung Batik Cibuluh Jadi Destinasi Wisata Edukasi Bertaraf Internasional