Di sisi lain, AS fokus pada daya jelajah panjang, kemampuan sensor, dan fleksibilitas payload sehingga drone dapat memperkuat operasi di Pasifik dan wilayah strategis lain.
Poseidon Rusia
Rusia juga mengembangkan drone bawah laut bernama 'Poseidon', yang ditempatkan pada kapal selam nuklir Khabarovsk.
Baca Juga: Kepala BRIN Resmikan Gedung Inkubator Halal IPB
Poseidon merupakan torpedo berkemampuan nuklir yang diklaim mampu menghasilkan tsunami radioaktif dan menghancurkan pesisir negara musuh.
Submarine Khabarovsk diluncurkan 1 November lalu dan menjadi salah satu aset paling menyita perhatian dunia di ranah pertahanan bawah laut.
Kapal Selam XXL China
China kini dianggap paling progresif dalam pengembangan drone bawah laut.
Negara itu menguji dua drone selam raksasa dengan panjang 40 meter, jauh lebih besar dari kapal selam tak berawak milik negara Barat.
Baca Juga: Diduga Rampas SHM Jaminan Hutang, Kades Muktijaya Dilaporkan Kuasa Hukum Korban
Dua drone tersebut berbasis di Hainan dan dioperasikan melalui floating dock yang dapat membawa mereka keluar masuk laut secara tersembunyi.
Teknologi ini dinilai sangat maju dan menunjukkan ambisi besar China dalam menguasai peperangan bawah laut.
Dengan ukuran setara kapal selam konvensional dan kemungkinan membawa lebih banyak senjata, drone ini masuk kategori baru yaitu XXLUUV atau ultra-large UUV.(*)
Artikel Terkait
Respons TNI AD soal Jaga Gedung Parlemen di Tengah Kritikan Sipil: Sudah Sesuai Ketentuan
Menhan Sebut Pengamanan Gedung DPR oleh TNI Bentuk Jaga Simbol Kedaulatan, Koalisi Masyarakat Sipil Bilang Langgar UU TNI
4 Hakim Sepakat Sebut UU TNI Tak Ada Keterbukaan Publik dan Desak Perbaikan Meski MK Putuskan Tolak Lakukan Uji Formil