pendidikan

Profil Para Jenderal Bintang Lima, Hanya Ada 3 Orang di Indonesia

Sabtu, 12 Agustus 2023 | 08:00 WIB
Mengenal Profil Jenderal Bintang Lima di Indonesia. (Foto/Kolase Wikipedia.)

JURNALMETROPOLITAN.com -- Gelar jenderal bintang Lima merupakan pangkat tertinggi dalam kesatuan militer, termasuk dalam susunan pangkat Perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) 

Tidak semua orang bisa mendapatkan gelar Jendersl Bintang Lima. Sebab, gelar jenderal bintang lima hanya diberikan kepada mereka yang dinilai memiliki jasa sangat besar pada perkembangan bangsa dan negara pada umumnya serta TNI pada khususnya. 

Hal tersebut bahkan telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 32 Tahun 1997. Di Indonesia, hanya ada 3 Perwira Tinggi TNI yang memegang pangkat Jenderal Bintang Lima 

Ketiga Jenderal Bintang Lima dalam sejarah Indonesia antara lain Jenderal A.H Nasution, Jenderal Besar Soedirman, dan Jenderal Soeharto

Berikut adalah profil dan biografi singkat Jenderal Bintang Lima di Indonesia.

Baca Juga: Kota Bogor Resmi Jadi Tuan Rumah Pekan Olahraga Beladiri Nasional

1. Jenderal AH Nasution

Abdul Haris Nasution mulai tertarik dengan dunia militer setelah mengikuti serangkaian pendidikan di Corps Opleiding Reserve Officieren (CORO) KNIL atau Korps Pendidikan Perwira Cadangan di Bandung pada 1940-1942.

Setelah menyelesaikan pendidikan militer, Nasution diangkat sebagai vaandrig atau pembantu letnan calon perwira, dan ditempatkan di Batalyon 3 Surabaya, Kebalen. Pada saat Perang Dunia II, Batalyon 3 bertugas mempertahankan pelabuhan Tanjung Perak.

Setelah Indonesia merdeka, pemerintah membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Nasution kemudian diangkat sebagai kepala staf komandemen TKR I/Jawa Barat. Tugasnya adalah menyusun organisasi dan administrasi.

Pada tahun 1948, ia menjadi Wakil Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI). Karirnya melejit hingga menjadi Jenderal Mayor dan menjabat sebagai Panglima Divisi III/TKR Priangan yang juga dikenal sebagai Divisi I/Siliwangi.

Pada 10 Desember 1949, jenderal AH Nasution diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Namun, ia pernah dinonaktifkan akibat konflik antara Angkatan Darat dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) karena dianggap terlalu campur tangan dalam masalah internal Angkatan Darat.

Peran penting Nasution dalam sejarah Indonesia adalah sebagai penggagas dasar perang gerilya melawan Belanda saat ia memimpin pasukan Siliwangi selama Agresi Militer I Belanda.

Selain itu, ia juga menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata pada tahun 1965 dan menjadi salah satu target dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S PKI).

Halaman:

Tags

Terkini