JURNAL METROPOLITAN - Menyandang predikat sebagai ulama tak mudah seperti menyandang profesi lainnya. Ulama atau penceramah memiliki dinamikanya sendiri.
Seperti yang terjadi di Arab Saudi. Imam ternama Abdullah Basfar dari Arab Saudi ini harus menanggung hukuman penjara 12 tahun karena dianggap ekstrem.
Pemerintah Arab Saudi menjebloskan Abdullah Basfar dengan tujuan tertentu. Rupanya, Abdullah Basfar bukan yang pertama yang dianggap ekstrem.
Abdullah Basfer, pernah memimpin salat di lapangan Masjid Hagia Sophia pada 2014. Saat itu Hagia Sophia masih belum diizinkan sebagai masjid oleh pemerintah Turki.
Baca Juga: Jadi Kebanggaan, Prodi Manajemen Kontruksi FT Unimed Sudah Terakreditasi A
"[Basfar] didakwa dengan konteks menerima undangan untuk mengimami salat di lapangan Masjid Hagia Sophia di Turki," demikian keterangan resmi organisasi hak asasi manusia di Saudi, Prisoners of Conscience, demikian dikutip English Al Arabiya.
Selain Basfar ada Saleh Al Thalib, mantan imam Masjidil Haram ini mendapat hukuman 10 tahun penjara dari pengadilan Banding Arab Saudi baru-baru ini gegara ceramah dia yang menentang kebijakan Kerajaan.
Kronologi kejadian itu bermula saat Al-Thalib menyampaikan ceramah pada 2018 lalu. Dalam ceramah tersebut, ia menentang kebijakan Saudi yang mengizinkan percampuran laki-laki dan perempuan di ruang publik.
Saat itu Kerajaan mengesahkan undang-undang yang mencampur laki-laki dan perempuan dalam ruang publik. Setelah empat tahun Saudi menahan Al Thalib, aktivis juga meminta pihak berwenang untuk membebaskan dia.
Baca Juga: Santri di Bantul Antusias Ikuti Apel Hari Santri Nasional 2022
Mereka menggalang solidaritas dan menggemakan tagar "Empat tahun sejak penangkapan imam Masjid Suci," demikian dikutip Middle East Monitor.
Al-Thalib dan kuasa hukumnya kemudian mengajukan banding di pengadilan. Pengadilan Kriminal Khusus sempat memutuskan membebaskan dia dari dakwaan.
Namun, Pengadilan Banding membatalkan putusan itu dan menjatuhkan hukuman terhadap sang imam dengan 10 tahun penjara.
Ada juga Sheikh Salman Al-Awda yang merasakan tekanan dari pemerintahan. Sheikh Salman Al-Awda, juga dibui karena mendukung rekonsiliasi kerajaan dengan Qatar.
Artikel Terkait
Para Pemimpin Dunia Beri Penghormatan pada Pemakaman Kenegaraan PM Jepang Abe
Pria Thailand Diduga Stres Kalap Tembaki Penitipan Anak, Diperkiran 22 Anak Menjadi Korbannya
Liz Truss, Perdana Menteri Inggris 45 Hari
Masyarakat Belum Puas, Lesti Tak Gubris, Tetap Tampil di Konser Onyo
Santri di Bantul Antusias Ikuti Apel Hari Santri Nasional 2022