JURNAL METROPOLITAN – Mahasiswa Politeknik Negeri Semarang (Polines) berhasil 'menyulap' biji asam jawa menjadi kain batik yang ramah lingkungan.
Mereka bukan sekadar bikin batik, batik yang kami buat bahan-bahannya dari limbah dan yang pati ramah lingkungan. Sebab, pembuatannya tidak menggunakan pola tradisional, seperti membakar lilin yang mengundang polusi yang berdampak pada kesehatan.
"Jadi, kita tidak menggunakan cara-cara proses pembuatan batik yang tidak sehat. Bukan hanya dalam proses pengolahan kain batik, tapi juga bahan yang digunakan, seperti lilin yang tidak digunakan," jelas Dina Setya Rini saat dihubungi, kemarin.
Baca Juga: Pelajar Berprestasi, Ikuti Beasiswa Indonesia Maju, untuk Raih Jenjang Pendidikan Tinggi
Mahasiswa tersebut adalah Dina Setya Rini (D-4 Analis Keuangan), Tiara Dalila Furqan (D-4 Analis Keuangan), dan Diksi Aisyah Isna (D-3 Teknik Elektro) mencoba membuat kain batik dari bahan limbah yang banyak didapat di lingkungan sekitarnya.
Mahasiswi sementer tujuh ini, mengakui selain terinspirasi dengan melimpahnya limbah kertas/kardus di lingkungannya, tapi juga dari pengalaman kaka kelasnya yang sebelumnya juga membuat batik dari kain pada umumnya, hanya motifnya mengambil dari motif-motif dari berbagai daerah di Jawa Tengah.
Jadi, kata Dina, kami membuat batik dari bahan luar kain yaitu limbaah kertas dalam hal ini kardus atau karton sebagai dasar motif sedangkan bahan kainnya terbuat dari serbuk dading biji asam jawa, yang melalui proses kimiawi yang diberi nama 'Balisam' (Batik dari Limbah Kertas dan Asam Jawa).
Kegiatan tersebut dikemas dalam program Pekan Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) 2021/2022 tersebut didanai Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemendikbudristek).
Baca Juga: SMK Model PGRI 1 Mejayan Berangkatkan 71 Lulusan Magang ke Jepang
Dina, Tiara Dalila Furqan, dan Diksi Aisyah Isna berhasil membuat bahan kain batik atau moris polos sepanjang 10 meter. Dari 10 meter kain moris ini dibagi tiga motif, masing-masing panjangnya sekitar 3 meter yaitu motif buah asam, motif daun asam, dan motif perpaduan buah asaam dan daun asam jawa.
Balisam ini, tambah Dina, pada Pimnas (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) 2022 yang dipusatkaan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu akan diikutsertakan. "Nantinya, bahan batik-batik tersebut dibuat menjadi sebuah produk baru yaitu dompet," jelasnya.
Dinas dan kawan-kawan menyebut, tujuan utama pembuatan produk ini adalah untuk membuka peluang usaha baru yang memiliki potensi pangsa pasar yang luas dan ketersediaan bahan baku yang terjamin.
Selain itu, pembuatan produk ini menggunakan bahan daur ulang yang berarti dapat melestarikan alam dan ramah lingkungan. Tidak kalah pentingnya adalah produksi Balisam sama saja dengan melestarikan budaya Indonesia yaitu batik.
Baca Juga: SMK Model PGRI 1 Mejayan Launching SMK Mitra Desa dan Penggerak UMKM
Diharapkan produk ini mampu bersaing dengan produk sejenis lainnya yang telah beredar di pasar lokal maupun mancanegara.***
Artikel Terkait
Pelajar Berprestasi, Ikuti Beasiswa Indonesia Maju, untuk Raih Jenjang Pendidikan Tinggi
Dunia Pendidikan Perlu Tahu Dunia Praktisi, Unpad Hadirkan 26 Praktisi
Pasha Ungu Dukung Keisha Alvaro Lanjutkan Pendidikan di Dua Negara Ini
Ronaldo Berseteru dengan Pelatih Portugal Fernando Santos?
Empat Penyebab Kerusakan Gempa Cianjur Menurut BMKG
Jordi Amat Optimistis dengan Timnas Indonesia Usai FIFA Terima Pergantian Federasi
Kalahkan Brasil 1-0, Sayang Kamerun Tetap Gagal Lolos ke Babak 16 Besar Piala Dunia
'The First Responders' Naik Peringkat Tertinggi Drama Korea