Ketika Presiden Prabowo Bicara Ketahanan Pangan hingga Dukungan ke Palestina di Sidang Umum PBB

photo author
Dimas Pratama, Jurnal Metropolitan
- Selasa, 30 September 2025 | 22:08 WIB
Prabowo di PBB: Indonesia Catat Sejarah Baru, Swasembada dan Ekspor Beras 2025 (Ist)
Prabowo di PBB: Indonesia Catat Sejarah Baru, Swasembada dan Ekspor Beras 2025 (Ist)

JURNALMETROPOLITAN.com - Presiden RI Prabowo Subianto usai menjadi pembicara dalam Sidang Umum ke-80 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, Selasa 23 September 2025.

Dalam pidatonya, Prabowo mengangkat sejumlah isu termasuk perdamaian dunia, penderitaan Palestina, hingga kesiapan Indonesia berkontribusi dalam menjaga keamanan global.

Lantas, apa saja yang menjadi pokok-pokok pembicaraan mantan Menteri Pertahanan di panggung PBB itu? Berikut ulasannya:

Sentil Isu Rasisme dan Sejarah Penjajahan

Prabowo mengawali pidatonya dengan menyinggung tantangan besar dunia yang masih diwarnai rasisme dan kebencian.

Ia menuturkan pengalaman pahit bangsa Indonesia di masa kolonialisme yang diperlakukan lebih hina dari hewan.

Baca Juga: Mencuat Dugaan Sabotase usai Pidato Pemimpin Dunia di PBB soal Palestina Terganggu Imbas Insiden Mikrofon Mati

"Selama berabad-abad, bangsa Indonesia hidup di bawah penjajahan, penindasan, dan perbudakan. Kami diperlakukan lebih hina daripada anjing di Tanah Air kami sendiri," kata Prabowo.

Menurutnya, perjalanan bangsa Indonesia melawan penjajahan, kelaparan, penyakit, dan kemiskinan tidaklah mudah. Namun, keberadaan PBB diakui turut membantu negara-negara yang mengalami penderitaan.

"Dalam perjuangan kami merebut kemerdekaan, dalam perjuangan kami melawan kelaparan, penyakit, dan kemiskinan, Perserikatan Bangsa-Bangsa berdiri bersama Indonesia dan memberikan bantuan yang sangat penting," lanjutnya.

Tolak Doktrin Si Kuat dan Si Lemah

Dalam forum internasional tersebut, Prabowo juga menegaskan pentingnya menolak doktrin ‘si kuat dan si lemah’ yang kerap menimbulkan ketidakadilan global.

"Yang kuat melakukan apa yang mereka bisa. Yang lemah menanggung apa yang harus mereka tanggung. Kita harus menolak doktrin ini. Perserikatan Bangsa-Bangsa ada untuk menolak doktrin ini," ucapnya.

Baca Juga: Menkeu Purbaya dan Jalan Koboi Menuju Target Sumitronomics: Dilema Ambisi Pertumbuhan dengan Risiko Gejolak Pasar Global

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dimas Pratama

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X