Awardee LPDP itu kemudian melanjutkan studi magister di Delft University of Technology, Belanda, pada program Sustainable Energy Technology dengan dukungan beasiswa LPDP dan dinyatakan lulus pada 31 Agustus 2017.
Di samping itu, Tyas dikenal sebagai pendiri sekaligus CEO Sustaination.
Sustaination adalah sebuah platform yang mengangkat isu gaya hidup berkelanjutan melalui edukasi dan kurasi produk ramah lingkungan.
Tyas mulai merintis perusahaannya pada 2018, semasa dirinya tinggal di Belanda.
Setelah kembali ke Indonesia, Sustaination berkembang menjadi toko daring yang menyeleksi berbagai produk berkelanjutan agar lebih mudah diakses oleh masyarakat luas.
Buntut dari polemik ini, Tyas telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui akun media sosialnya.
Akui Ucapannya Berasal dari Emosi Pribadi
Secara terpisah, Tyas mengklarifikasi terkait ucapan 'cukup saya yang WNI, anak jangan', melalui akun Threads pribadinya, pada Sabtu, 21 Februari 2026.
“Sehubungan dengan unggahan saya sebelumnya yang memuat kalimat cukup saya saja yang WNI, anak-anak saya jangan," ungkapnya.
Baca Juga: Terjebak Macet di Jakbar, Momen Hangat Berbagi Takjil untuk Batalkan Puasa
"Dengan ini saya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat yang merasa tersakiti, tersinggung, maupun tidak nyaman atas pernyataan tersebut,” sambung Tyas.
Awardee LPDP itu menjelaskan, unggahan tersebut dipicu oleh kondisi emosional pribadi.
“Pernyataan tersebut lahir sepenuhnya dari rasa kecewa, lelah, dan frustrasi pribadi saya sebagai Warga Negara Indonesia terhadap berbagai kondisi yang saya rasakan,” ucap Tyas.
Meski begitu, Tyas mengakui kesalahannya dalam berkomunikasi di ruang publik.